Nasib Mereka yang Tidak Lulus Ujian

Sudah lama Bu Guru tidak posting tentang pendidikan. Apa yang akan saya sampaikan ini terinspirasi dari dua orang anak kelas XII yang kurang beruntung. Semoga bisa bermanfaat bagi pembaca.

Pengumuman kelulusan SMA sederajat telah lewat hampir tiga minggu. Bagi yang lulus, begitu bahagia dan tradisi coret2 ato konvoi pun dilakukan utk meluapkan kegembiraan. Sekarang mereka berjuang untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi n lebih mahal. Apa yang terjadi dengan mereka yang tidak lulus ujian?? Ya..ikut Ujian Paket C donk. Hal itu tidak terjadi dengan dua siswa yang akan saya ceritakan. Apa yang terjadi dengan mereka???

Pertama, kita sebut saja namanya Bunga. Seorang siswi yang pintar n ceria serta ramah. Minggu2 ini saya tidak melihat Bunga. Saya pikir dia telah berangkat ke Bandung untuk melanjutkan kuliah disana. Ternyata…saya mendapat kabar, Bunga terbaring di ICCU di salah satu rumah sakit. Singkat cerita, Bunga lgsg pingsan ketika membaca surat kelulusan yang menyatakan dia TIDAK LULUS! Bunga memiliki penyakit jantung *baru diketahui*… gak tega rasanya melihat Bunga terbaring lemas, tanpa daya, tubuhnya dikelilingi selang n alat pernapasan… Hilang sudah cita2nya untuk berangkat ke Bandung. Saya sendiri antara percaya dan tidak, kenapa anak cerdas seperti Bunga bisa tidak lulus??? Satu jawaban konyol yg saya dapatkan dari temannya adalah β€œBunga itu sok alim. Dia nggak mau nyontek. Mentang2 pinter. Ya gitu deh hasilnya.” Itukah rahasia lulus ujian??? Saya terdiam sepersekian detik mendengar ucapan teman Bunga yang lulus yang bangga karena menyontek! Astaghfirullah…

Cerita kedua seorang siswa, namanya Cakep *nama samaran* yang bernasib sama seperti Bunga, tidak lulus ujian. Hanya saja, Cakep berbeda latar belakang dengan Bunga. Untuk melanjutkan sekolah sampai SMA, Cakep tinggal dengan orang. Lebih tepatnya menjaga, merawat rumah orang sibuk, punya uang tapi gak punya waktu. Efek tidak lulus bagi Cakep adalah : sekitar 1 minggu ini saya mendengar suara musik yang nyaring, padahal biasanya tiap pagi rumah Cakep sepi, sunyi. 2 kali saya memergoki Cakep berdiri di depan pagar rumahnya termenung dengan memakai baju seragam. Anak2 remaja disekitar rumahnya mulai membicarakan Cakep… Saya yakin, Cakep berjuang untuk melanjutkan sekolah. Walaupun tinggal dengan orang, Cakep pasti punya impian, punya cita2 tapi semua berubah hanya karena selembar kertas yang diterimanya dan tertulis TIDAK LULUS.

Air mata ini tidak bisa ditahan jika ingat apa yang terjadi pada mereka…

Inikah hasil perjuangan mereka selama 3 tahun sekolah??

26 thoughts on “Nasib Mereka yang Tidak Lulus Ujian

  1. Yup. Kasian banget jika sampai siswi tersebut harus mengalami nasib seperti itu. Masalahnya lagi, tidak semua universitas di Indonesia yang bisa nerima sertifikat/ijazah paket c (denger2lah, ndak tau benar ndak nye)

    =======
    semoga seluruh Universitas Indonesia mau menerima lulusan SMA sederajat dengan ijasah paket C. toh mereka berhak melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi πŸ™‚

  2. Oh…….Indonesia………masih bangga dengan ijasah……..

    =======
    Yaa..begitulah Indonesia.. orang yang memiliki byk gelar akademik lebih panjang dari namanya dihargai padahal blm tentu orang tersebut memiliki kualitas sesuai dengan gelarnya 😦

  3. inilah salah satu dampak un yang pernah juga saya khawatirkan, bu ita. banyak anak yang harus jadi korban, bukan karena mereka bodoh, tapi memang sistem UN yang perlu diperbaiki. ikut prihatin, bu.

    =======
    iya pak, begini hasil dari sistem UN yang dibangga2kan pihak yang membuat kebijakan tp tidak bijak 😦

  4. kok namanya bunga??
    kek nama samaran korban pemerkosaan.. 😯
    **oot mode on**
    kidding kidding kidding

    ======
    Iya, biar seru seperti berita2 kriminal yang selalu pake nama samaran πŸ˜›

  5. Hidup memang kadang tidak memberi kita banyak pilihan. Menurut saya status TIDAK LULUS, mau tidak mau harus kita terima. Setidaknya itulah sistem kita yang berlaku saat ini. Mengharapkan perubahan??? Mungkin kita bisa memulainya.
    Btw, thanks atas komentarnya di blog saya
    Salam Hangat

    =======
    hidup memang pilihan n keputusan TIDAK LULUS bukanlah pilihan semua orang. Skrg tinggal menerima hasil yang telah diputuskan dan melanjutkan perjalanan hidup *halaah, ngomong apa sih* πŸ˜€
    sama2 bang, terima kasih sudah mampir ke sini πŸ™‚

  6. Kalau orang menyontek itu namanya rajin juga, rajin menyontek! Huehehehe…… πŸ˜†

    **mode SERIUS ON**

    Sebenarnya bagaimana seseorang anak menghargai pendidikan dimulai dari dalam keluarga. Banyak keluarga yang mengirim anaknya hanya untuk sekolah karena sudah menjadi “tuntutan” program wajib belajar, namun banyak orang tua yang masih belum mengetahui esensi pendidikan itu sendiri. Pendidikan lebih dari hanya sekedar pergi sekolah pagi, pulang sekolah siang dan terus mendapatkan nilai yang baik dan lulus.

    Pendidikan adalah pada dasarnya usaha membentuk manusia yang berkualitas (kalo bisa berkualitas internasional) dan juga membentuk pribadi2 yang tidak merusak **halaah** tatanan etika yang ada di tengah2 masyarakat…. Jadi bukan hanya mendapatkan nilai bagus (standard sekolah) namun tidak bisa bersaing di pasar kerja internasional tambahan pula bisanya hanya menipu seperti para politisi di negeri ini.

    Tapi melihat kondisi masyarakat kita sekarang ini, kita bisa mengerti seberapa banyak sih orang tua yang benar2 sadar arti pendidikan? 😦

    =======
    iya pak, orang tua jaman skrg hanya membuat anak, melahirkan, memberi materi, jika sudah waktunya anak tersebut disekolahkan. kalau anaknya bermasalah, yang disalahkan pihak sekolah terutama guru dibilang tidak pandai mendidik muridnya. anak2nya dibesarkan oleh PRT dan belajar dari sinetron2 😦 ntah mau jadi apa generasi penerus bangsa Indonesia jika anak2 dididik dengan cara seperti itu.Hiks…

  7. lulus tidak lulus itu semua hanya predikat, *cangak mode on* peduli s### dengan predikat, kalo yang lulus itu merasa pintar sini, adu kita :p. /sok ndak :))

    =======
    kepintaran seseorang tidak bisa diukur dengan predikat lulus/tidak lulus.

  8. Hi eNPe, ceritanya sangat mengenaskan… Tapi saya takut cerita kayak gini bakal senasib dengan berita kriminal (maksudnya, karena sering denger jadi tidak mengenaskan lagi).

    Jadi inget ceritanya Thomas Alpha Edisson *hiks*. Saya ga bisa berbuat apa2, kecuali komen *hiks*. Tapi kita liat deh 20 tahun lagi, apa yg terjadi dengan si pencontek yg lulus dan Bunga?

    =======
    Ya, akhir2 ini nasib buruk bagi mereka yg tidak lulus sudah biasa. apalagi setiap tahun angka tidak lulus terus bertambah. bisa2 benar seperti yang bapak bilang, cerita2 seperti di atas akan terbiasa kita dengar 😦

  9. UN itu hanya menekankan pada hapalan semata atau recall. Padahal dalam hidup, yang penting adalah mencari solusi dalam setiap masalah. Atau, menelurkan ide dan sekaligus merealisasikannya.
    UN itu soalnya sama untuk semua daerah, padahal kualitas dan sarana tidak sama. Adilkah?
    Harusnya, kelulusan tidak ditentukan oleh pusat, tapi oleh guru ybs yang mengetahui bagaimana sehari2 anak tsb.

    Saya jadi ingat, dulu saya waktu ujian naik kelas 6 SD saya lagi khitan sehingga tidak ikut ujian beberapa pelajaran. Tetapi karena guru saya tahu kemampuan saya, saya tetap naik kelas, bahkan tetap juara. Nilainya didapat dari mana? Ya dari nilai sehari-hari…

    =======
    Binun pak, menanggapi kebijakan tapi tidak bijak pemerintah. Memang tidak adil soal dengan bobot yang sama diberikan pada semua sekolah. Padahal mutu masing2 sekolah berbeda..
    Ya, apa yg bapak alami itu lebih bijak karena sesuai kemampuan siswa. kalo emang bisa naik kelas ya pantas naik kelas πŸ˜€

  10. nasibnya murid pintar yang tidak mengenakan, kalo gak mau kasih contekan malah dibilang pelit dan individualis.. sama seperti diriku dulu (halahh…narsis)

    =======
    huehehehehe…begitulah resiko jadi orang pintar *halah, sok2 pintar* πŸ˜›

  11. Lha, masih musim gak lulus to Jeng (gak lulus kok pake musim, mungkin karena kejadiannya musiman ya Jeng?) Hmm, di Jepang, murid SD-SMU gak ada yang gak lulus, smua lulus (wong gak ada UN)..baru setelah mo masuk, perguruan tinggi, bakat mereka (yang tercatat rapi dibuku laporan) diarahkan..gitu..

    =======
    hmm…semoga suatu saat pendidikan Indonesia bisa maju seperti di Jepang. Murid gak perlu belajar semua pelajaran yang gak jelas kurikulumnya 😦 tapi murid lebih fokus n terarah sesuai kemampuan n bakat masing2 πŸ˜€

  12. Banyak juga masukan yang telah diberikan pada saya, saat saya menulis bahwa di sekolah saya kelulusan hanya 50%. Bu EnPe, kata mereka, dan saya rasa betul, ini akan jadi sebuah pengalaman pahit yang akan membuat mereka lebih dewasa. Mudah-mudahan mereka bisa bertahan terhadap gempuran komentar-komentar tak sedap di sekelilingnya.
    Gak lulus bukan akhir segalanya.

    =======
    ya, memang terapi kesalahan atau kegagalan akan menjadikan kita lebih dewasa dalam menjalani hidup kemudian hari…

  13. Salam kenal Bu EnPe, artikel anda bagus. Saya coba memberi komentar atas isi artikel Anda. Ada dua hal yang pasti terjadi ketika seorang manusia menghadapi evaluasi, yang pertama berhasil dan yang kedua gagal. Selama ini kita terbiasa berhasil tanpa kerja keras, terbiasa sukses tanpa kesungguhan, artinya sukses anak didik kita karena hadiah bukan karena usaha mereka sendiri. Jadi kesimpulannya kita tidak terbiasa gagal, padahal kegagalan adalah modal untuk memperbaiki diri, mudah-mudahan Bunga dan temannya bukan menangisi kegagalan tetapi mengelola kegagalan itu menjadi keberhasilan. Matur nuwun

    ======
    salam kenal Pak Ardan.
    terima kasih atas komentar Anda. ya, hidup memang perlu perjuangan n kegagalan bisa menjadikan kita lebih baik lagi.

  14. persoalan tidak lulus juga tidak hanya dialami di Indonesia. Ketika saya mendengar siaran radio online dari negara bagian California di Amerika, salah satu keluhannya adalah sekitar separuh anak “high school” atau SMA di Indonesia terancam tidak lulus.

    saya sendiri tidak sepenuhnya setuju UN menjadi patokan kelulusan seorang siswa atau tidak. tapi kalau tidak ada “benchmark” atau nilai standar bagi para siswa, maka susah juga untuk memberikan penilaian apakah pendidikan tersebut telah berhasil. ada pendapat bu guru? πŸ˜€

    =======
    makna n kualitas kelulusan di California berbeda dgn di Indonesia. Di Indonesia skrg sulit menentukan siswa lulus itu telah berhasil dalam pembelajaran atau hanya keberuntungan ketika menjawab UN. Memang diperlukan standar utk menilai keberhasilan pembelajaran siswa tapi tidak pukul rata seperti sekarang ini. Pusat yang menetapkan lulus tidaknya siswa. 3 tahun sekolah hanya ditentukan 3 hari…

  15. KAta teman saya yg pernah tinggal di Canada, disana gak ada sistim ujian nasional, yg pasti setiap siswa diwajibkan magang di tempat2 usaha/kantor/perusahaan karena yg di perlukan adalah memaksimalkan kemampuan / potensi masing2 sehingga mereka nantinya menjadi tenaga2 siap pakai
    Di indo, nilai un yg harusdimaksimalkan (5,25 utk 4 mp)….. skill ? urusan belakangan

    =======
    di Canada siswa benar2 siap setelah lulus sekolah tapi kalo di Indonesia yang penting kan bisa bulet2in pilihan jawaban yg tersedia pake pensil trus untung2an kalo buletan itu adalah jawaban yang benar..gak peduli kenapa pilihan itu bisa dipilih…:(

  16. harus ada reformasi di bidang pendidikan nih..
    saat ini siswa selalu divonis pintar atau bodoh..
    polarisasi ini sangat berbahaya..
    mungkin dia pintar di pelajaran mipa maka akan dilabeli siswa pintar..
    klo pintar di bidang yang lain pasti label bodoh akan melekat..
    padahal yang pintar di bidang mipa belum tentu pintar di bidang yang lainnya..
    jadi harus dibikin model pendidikan yang mengeksplore bakat setiap siswa.
    Menurut saya tidak ada siswa yang bodoh kok..
    cuman dia kelihatan bodoh karena sudut pandang yang dipakai untuk menilainya tidak mendukung kelebihan yang ia miliki.
    mudah2an pendidikan Indonesia bisa berubah menjadi lebih baik..
    salam kenal..

    =======
    salam kenal juga
    ya, memang tidak ada siswa yang bodoh. setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda tapi sayangnya di Indonesia ukuran pintar selalu dilihat dari bidang eksak. padahal byk kecerdasan yang dimiliki siswa dan tugas para pendidik utk membimbing serta menyalurkan kecerdasan tersebut

  17. Ya..mau gimana lagi….
    Aku setuju dengan pendapat proletarman,
    Siswa bukannya bodoh tapi kebutulan soal yang diujikan bukan yang ia kuasai. bisa aja di ngga’ ngerti Matematika tapi lebih paham tentang SENI, atau Olahraga.
    UN Tak seharusnya memvonis siswa Lulus atau Tidak. UN Sebaiknya menjadi saran untuk menentukan kemana sebaiknya siswa melanjutkan Studi…
    Kata teman saya(entah benar atau tidak) di malaysia juga sperti itu. Ujian hanya ajang untuk menentukan apakah siswa layak untuk masuk kelas Sains, Ekonomi, atau budaya, jadi ngga’ ada istilah ngga’ naik kelas atau ngga’ lulus.

    ======
    ada baiknya Indonesia lebih mendidik siswa sesuai kecerdasan n bakat masing2…

  18. saya berpikir apakah pemerintah indonesia dengan sengaja membodohkan rakyatnya? dengan UAN yang hanya mengagungkan nilai. belum lagi biaya pendidikan yang sangat tinggi. kasihan bangsa kita…

    =======
    Pemerintah berniat baik utk memajukan pendidikan Indonesia tapi blm saat ini niat tersebut dilaksanakan dengan cara yang tidak tepat πŸ™‚

  19. KENALIN ZXV_GENK……………………….!
    SAYA TAHUN INI KELAS 1SMK,MEMANG BERAT BAGI MEREKA YG TIDAK LULUS….,TEMAN SAYA YG TIDAK LULUS eh….masa DIKASIH KUNCI JAWABAN PAKET C SAMA KEPALA SEKOLAH……!
    TAPI MEMANG BENER KALO MAU LULUS KUNCINYA SEKARANG SATU YAITU KITA KERJASAMA DGN TEMAN2 YG LAIN……..!
    BANYAK GURU YG BILANG BEGINI: “kenapa….ya anak didik kita pintar2 harus TIDAK LULUS,sedangkan murid yg rada malas bisa LULUS”
    NAH…..APA COBA KALO KUNCINYA ITU ADALAH KERJASAMA DGN TEMAN2 LAIN……….
    BERSATU KITA TEGUH BERCERAI KITA…..KAWIN….LAGI, biasa simbol orang indonesia kayak begini….

    ==============
    kala semua kepsek seperti itu malah menjerumuskan siswanya ke jurang kebodohan. mereka hany mikir jangka pendek dengan meraih nilai atau prestasi tinggi ujian tapi membodohi diri sendiri. Astaghfirullah..

  20. ya, banyak siswa yang pintar dan rajin justru tidak lulus hanya karena tidak mau berbuat nyotek, saya pikir orang yang seperti sudah dinaikan derajatnya oleh tuhan, karena ia telah berani berbuat jujur, jika ia terus berbuat jujur dan terus rajin maka kesuksesan baginya hanyalah masalah waktu. percayalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s