Kisi-Kisi UAS Sementer Ganjil 2014/2015

Kepada seluruh siswa/i kelas XII SMAN 2 Pontianak :

Kisi-kisi UAS Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2014/2015 pelajaran TIK dan Flash :

Pelajari buku TIK dan Flash.

Tidak ada kisi-kisi secara spesifik sesuai indikator. Ibu sudah memberikan jawaban dari pertanyaan yang ada, siswa/i hanya memilih jawaban yang paling tepat.

Selamat belajar dan semoga sukses:)

5 komunitas bagi guru untuk belajar TIK

Terkait dengan persiapan di bidang penguasaan TIK, berikut lima komunitas di Indonesia yang bisa diikuti oleh para guru untuk belajar TIK baik tingkat dasar maupun tingkat lanjutan. Apa sajakah komunitas yang rata-rata bergerak secara online itu?
1. Guru Era Baru (Guraru)
“Guru Era Baru” yang lebih akrab dikenal dengan “Guraru” merupakan komunitas yang memungkinkan para guru untuk belajar TIK bermula dari hal-hal yang mendasar. Komunitas yang didirikan oleh produsen komputer Acer itu sejak tahun 2011 hingga 2013 rutin mengadakan ajang pemilihan para guru yang dinilai melek IT. Parameter guru melek IT versi Guraru terbilang sederhana yaitu seorang guru yang memiliki blog dengan konten pendidikan dan minimal aktif selama satu tahun terakhir. Sayangnya untuk periode 2014, Guraru tampaknya tidak lagi menyelenggarakan ajang Guraru yang biasanya berdekatan dengan Hari Guru Nasional. Bahkan akun Twitter-nya di-update terakhir kali pada bulan Agustus 2014 silam. Tetapi, website-nya sendiri masih aktif yang menyajikan tulisan dari para sesama guru seputar TIK.
2. Ikatan Guru Indonesia (IGI)
IGI yang memiliki moto “Sharing and Growing Together” dan disahkan oleh pemerintah tepat satu hari setelah Hari Guru Nasional tahun 2009 yaitu tanggal 26 November, memang komunitas yang tidak secara khusus berbagi ilmu mengenai bidang TIK. Namun, IGI memiliki program kerja yang menunjang para Guru dalam menguasai TIK yaitu “Gerakan Guru Melek Internet” dan “Sagusala” (Satu Guru Satu Laptop). Uniknya, hampir semua pemenang Guraru dari tahun 2011 hingga 2013 aktif juga di komunitas IGI. Komunitas ini juga terbilang intensif dalam mengadakan event pendidikan baik online maupun offline. Melalui IGI diharapkan para guru dapat mengubah dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada pihak lain dan sekaligus bersiap menjadi lokomotif penggerak perubahan bangsa, antara lain dalam hal penguasaan TIK. Baca juga: 5 startup pendidikan asing yang berekspansi ke Indonesia.
3. Intel Teach Indonesia
Dari pemilihan namanya, tentu Anda sudah menduga bahwa Intel Teach Indonesia diprakarsai oleh produsen software dan hardware terkemuka: Intel. Intel Teach Indonesia sendiri merupakan bagian dari kegiatan global Intel yang disebut “Program Intel Teach” dan menempatkan republik ini sebagai negara ke-45 dari sekitar 70 negara yang mengimplementasikan program tersebut serta telah melatih lebih dari 10 juta guru di seluruh dunia. Sejak tahun 2009 hingga 2013, Intel Indonesia juga menyelenggarakan ajang “Intel Education Awards” yang memberikan penghargaan kepada guru yang berhasil menggunakan teknologi untuk mempromosikan keunggulan dalam pendidikan dan meningkatkan standar pendidikan nasional. Sayangnya di tahun 2014 ini, tampaknya Intel Indonesia tidak lagi menyelenggarakan ajang tersebut. Tetapi, para guru masih berdiskusi mengenai TIK di grup resmi Intel Teach Indonesia di Facebook.
4. Asosiasi Guru Teknologi Informasi Indonesia (AGTIFINDO)
Berdiri pada 4 Juli 2014, AGTIFINDO merupakan sebuah komunitas yang memiliki visi untuk mewadahi para guru TIK dan KKPI (Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi) — sebuah istilah yang merujuk kepada guru TIK di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) — di seluruh Indonesia. Dari delapan tujuan didirikannya AGTIFINDO, ada dua tujuan yang menarik perhatian kami, yaitu: Menjadikan Teknologi Informasi sebagai sebuah bidang atau disiplin keilmuan yang harus diajarkan di satuan pendidikan formal maupun non-formal. Menjadikan bangsa Indonesia sebagai negara yang melek teknologi informasi, tidak hanya sebagai konsumen atau pemakai akan tetapi mampu menjadi produsen produk-produk teknologi informasi dan menjadi leader dalam IPTEK di dunia internasional.
5. Google Educator Group (GEG)
Komunitas GEG West Jakarta yang pertama kali bertemu secara fisik | Sumber: Eduqo Dari empat komunitas yang bisa diikuti oleh para guru di Indonesia untuk belajar TIK, GEG tampaknya yang paling “bungsu” dilahirkan menjelang tutup tahun 2014 ini. Didirikan oleh Steven Sutantro (guru Kewirausahaan SMA Dian Harapan Daan Mogot, Jakarta) dan Craig Hensen (Kepala Sekolah Singapore International School Kebon Jeruk, Jakarta) pada akhir Agustus 2014 silam, GEG merupakan komunitas para guru yang mengadakan kegiatan professional development yang dikepalai oleh beberapa Google Certified Teacher — sebuah istilah yang merujuk para guru yang telah mengikuti workshop pendidikan Google . Google Educator Group sendiri merupakan komunitas independen pendidik — bukan instruksi dari pihak Google sebagai perusahaan — yang memfasilitasi guru untuk belajar bersama dengan gratis dan menyenangkan agar bisa memenuhi kebutuhan siswa dengan teknologi. Kabar terbaru yang kami peroleh, Google Indonesia pada tanggal 4 Desember 2014 mendatang akan menyelenggarakan Google for Education Indonesia Summit. Bagi para guru Indonesia, Anda kini memiliki beberapa alternatif komunitas untuk diikuti demi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan TIK dalam hal pendidikan. Besar harapannya para guru Indonesia yang sudah melek TIK ini bisa memengaruhi para siswanya bahwa bangsa ini bisa juga menjadi produsen produk TIK berkelas dunia seperti Amerika Serikat dan Cina, bukan hanya sebagai konsumen.

Sumber : http://id.techinasia.com/komunitas-guru-belajar-tik/

Gaya Belajar untuk FiaFiz

FiaFiz, begitu kami menyebut nama keduanya yang diambil dari panggilan nama mereka Lutfia dan Hafiz.
Memiliki dua balita yang lucu, menggemaskan, membuat suasana rumah ramai.
Ada saatnya FiaFiz bermain bersama, seperti sekolah-sekolahan, masak-masakan, mobil-mobilan, nonton video dan sebagainya. Ada saatnya salah satu atau bahakan keduanya menangis bersama karena berebut mainan atau ada yang mengganggu lainnya.
Begitulah seru dan bahagia bersama dua balita yang satu perempuan dan yang satu laki-laki.
Perbedaan usia 1,5 tahun membuat mereka bisa bermain bersama, sepantaran untuk belajar juga. Apalagi postur tubuh FiaFiz tidak beda jauh.

Sambil bermain dan belajar, saya mengamati cara atau gaya belajar FiaFiz. Untuk Fia yang berusia 4 tahun lebih menyukai gaya belajar auditory. Fia lebih suka bernyanyi. Ketika saya memintanya belajar membaca, Fia menunggu saya untuk mengajari membaca terlebih dahulu baru Fia mengikuti setelahnya. Fia tidak suka menonton dan menyukai ketenangan saat belajar, hanya bicara dan bercerita berdua ibunya bisa banyak hal yang kami pelajari. Fia sering bercerita menggunakan kata “bilang”. Hal tersebut yang meyakinkan saya bahwa Fia memiliki gaya belajar auditory karena lebih mudah menangkap segal sesuatu yang didengarnya. Saya pun membuat sebagian besar hal yang dipelajari Fia dengan nyanyian. Misalnya untuk menghapal huruf Hijaiyah, kata-kata bahasa Inggris-Indonesia, bahkan menasehati dan membangunkannya tidur di pagi hari menggunakan kata yang merdu dan bernada sesuai selera saya, hahahaha…..

Saya coba terapkan hal serupa pada Fiz (adik Fia) tetapi tidak ada pengaruh yang berarti. Karena Fiz lebih suka menonton gadget atau laptop yang berisi tayangan video atau animasi pembelajaran. Ternyata Fiz (2,5 tahun) memiliki gaya belajar dengan tipe visual. Sama dengan Fia, Fiz juga menyukai ketenangan dalam belajar. Fiz bisa betah bermain gadget animasi huruf atau video upin-ipin lalu jika ditanya apa yang telah ditontonnya maka Fiz bisa bercerita dengan detail. Walaupun belum begitu pasih menyebutkan kata-kata tertentu. Pernah kami pergi undangan di gedung A, ketika bulan berikutnya kami melewati gedung A, Fiz bisa ingat bahwa pernah undangan di gedung tersebut bahkan Fiz bisa tau ada perubahan cat pada gedung A, hehehe…

Begitulah hasil gaya belajar kedua anak saya. Belum tahu apakah gaya belajar tersebut nantinya bisa berganti atau tidak karena saat ini FiaFiz masih balita.

Tata Letak Meja dan Kursi Dalam Proses Belajar Di Kelas

TATA LETAK MEJA DAN BANGKU DALAM PROSES BELAJAR DI KELAS

Kursi dan meja siswa dan guru perlu ditata sedemikian rupa sehingga dapat menunjang kegiatan belajar-mengajar yang mengaktifkan siswa, yakni memungkinkan hal-hal sebagai berikut:
1.Aksesibilitas: siswa mudah menjangkau alat atau sumber belajar yang tersedia.
2.Mobilitas: siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian lain dalam kelas.
3.Interaksi: memudahkan terjadi interaksi antara guru dan siswa maupun antar siswa.
4.Variasi kerja siswa: memungkinkan siswa bekerjasama secara perorangan, berpasangan, atau kelompok.
Lingkungan fisik dalam ruang kelas dapat mejadikan belajar aktif. Tidak ada satupun bentuk ruang kelas yang ideal, namun ada beberapa pilihan yang dapat diambil sebagai variasi. Dekorasi interior kelas harus dirancang yang meungkinkan anak belajar aktif, yakni yang menyenangkan dan menantang.
Formasi kelas berikut ini tidak dimaksudkan untuk menjadi susunan yang permanen. Jika mubeler (meja atau kursi) yang ada di ruang kelas dapat dengan mudah dipindah-pindah, maka sangat mungkin menggunakan beberapa formasi ini sesuai dengan yang diinginkan
1.Formasi Huruf U



Formasi ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Para peserta didik dapat melihat guru dan/atau melihat media visual dengan mudah dan mereka dapat saling berhadapan langsung satu dengan yang lain. Susunan ini ideal untuk membagi bahan pelajaran kepada peserta didik secara cepat karena guru dapat masuk ke huruf U dan berjalan ke berbagai arah dengan seperangkat materi.

2. Formasi Corak tim


Mengelompokkan meja-meja setengah lingkaran atau oblong di ruang kelas agar memungkinkan anda untuk melakukan interaksi tim. Anda dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja untuk susunan yang paling akrab. Jika anda melakukan, beberapa peserta didik harus memutar kursi mereka melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat anda, papan tulis atau layar.

3. Meja Konferensi

Ini terbaik jika meja relatif persegi panjang. Susunan ini mengurangi pentingnya pengajar dan menambahkan pentingnya peserta didik. Susunan ini dapat membentuk perasaan formal jika pengajar ada pada ujung meja.

4. Lingkaran

Para peserta didik hanya duduk pada sebuah lingkaran tanpa meja atau kursi untuk interaksi berhadap-hadapan secara langsung. Sebuah lingkaran ideal untuk diskusi kelompok penuh. Sediakan ruangan yang cukup, sehingga anda dapat menyuruh peserta didik menyusun kursi-kursi mereka secara cepat dalam berbagai susunan kelompok kecil.

5. Kelompok Untuk Kelompok

Susunan ini memungkinkan anda melakukan diskusi fishbowl (mangkok ikan) atau untuk menyusun permainan peran, berdebat atau observasi aktifitas kelompok. Susunan yang paling khusus terdiri dari dua konsentrasi lingkaran kursi. Atau anda dapat meletakkan meja pertemuan di tengah-tengah, dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar.

6. Workstation

Susunan ini tepat untuk lingkungan tipe laboratorium, aktif dimana setiap peserta didik duduk pada tempat untuk mengerjakan tugas (seperti mengoperasikan komputer, mesin, melakukan kerja laborat) tepat setelah didemonstrasikan. Tempat berhadapan mendorong patner belajar untuk menempatkan dua peserta didik pada tempat yang sama

7. Breakout Groupings

Jika kelas anda cukup besar atau jika ruangan memungkinkan, letakkan meja-meja dan kursi dimana kelompok kecil dapat melakukan aktifitas belajar didasarkan pada tim. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok saling berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu. Tetapi hindarkan penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil terlalu jauh dari ruang kelas sehingga hubungan diantara mereka sulit dijaga.

8. Susunan Chevroun

Sebuah susunan ruang kelas tradisional tidak melakukan belajar aktif. Jika terdapat banyak peserta didik (tiga puluh atau lebih) dan hanya tersedia meja oblong, barangkali perlu menyusun peserta didik dalam bentuk ruang kelas. Susunan V mengurangi jarak antara para peserta didik, pandangan lebih baik dan lebih memungkinkan untuk melihat peserta didik lain dari pada baris lurus. Dalam susunan ini, tempat paling bagus ada pada pusat tanpa jalan tengah.

9. Kelas Tradisional

Jika tidak ada cara untuk membuat lingkaran dari baris lurus yang berupa meja dan kursi, cobalah mengelompokkan kursi-kursi dalam pasangan-pasangan untuk memungkinkan penggunaan teman belajar. Cobalah membuat nomor genap dari baris-baris dan ruangan yang cukup diantara mereka sehingga pasangan-pasangan peserta didik pada baris-baris nomor ganjil dapat memutar jursi-kursi mereka melingkar dan membuat persegi panjang dengan pasangan tempat duduk persis di belakang mereka pada baris berikutnya.

10.Auditorium

Meskipun auditorium menyediakan lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif, namun masih ada harapan. Jika tempat duduk-tempat duduk itu dapat dengan mudah dipindah-pindah, tempatkanmereka dalam sebuah arc (bagian lingkaran) untuk membentuk hubungan lebih erat dan visibilitas peserta didik.. Jika tempat-tempat duduk itu cocok, suruhlah peserta didik agar duduk sedekat mungkin ke pusat. Berlaku asertif terhadap bentuk ini; sekalipun dianggap barisan lepas dari sisi audotorium. Ingatlah : tidak masalah seberapa besar auditorium dan seberapa banyak audien, anda masih dapat memasangkan mereka dan menggunakan aktifitas-aktifitas belajar aktif yang melibatkan pasangan-pasangan.

Sumber : http://www.blog-guru.web.id/2009/02/mengelola-ruang-kelas.html

YearBook The Expost 2014

Buku kenangan para siswa yang berisi kumpulan foto akan menjadi saksi ketika siswa telah lulus SMA.
Ini sebagian foto dari 3 halaman yearbook the expost yang saya publish ke blog ini.
Foto yang ada di dapat secara langsung memang dilakukan foto bersama tetapi ada yang sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan moment yang pas dari kejadian di the expost, hehehe…

yearbook the expost1

yearbook the expost2

yearbook the expost3

Semoga dengan adanya yearbook ini bisa mengenang masa-masa indah [putih abu-abu di kelas XII IPA 2 dengan wali kelas Nurita Putranti.