RSS

profesi, profesional, profesionalisme, profesinalisasi dan profesionalitas

08 May


Masih adakah profesionalitas dalam bekerja? Jadi benar2 melaksanakan pekerjaan dengan sepenuh hati. Sebelum melanjutkan omelan2 ini, sebaiknya saya paparkan sedikit perbedaan profesi, profesional, profesionalisme, profesinalisasi dan profesionalitas. Ini bukan definisi saya pribadi tapi dari berbagai sumber.

Profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian atau keterampilan dari pelakunya.

Profesional adalah orang yang menyandang suatu jabatan atau pekerjaan yang dilakukan dengan keahlian atau keterampilan yang tinggi. Hal ini juga pengaruh terhadap penampilan atau performance seseorang dalam melakukan pekerjaan di profesinya.

Profesionalisme merupakan komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuannya secara terus menerus.

Profesionalisasi adalah proses atau perjalanan waktu yang membuat seseorang atau kelompok orang menjadi profesional.

Profesionalitas merupakan sikap para anggota profesi benar2 menguasai, sungguh2 kepada profesinya.

Kenapa saya berikan penjelasan singkat ttg 5 istilah di atas? Karena terus terang saya sendiri sering mendengar n menyebut kata2 itu tapi bingung juga apa beda atau pengertian yang sebenarnya,hehehehe…

Kembali ke omelan2..

Pernah mendengar istilah 1. karena keluarga mendapat pekerjaan? atau istilah 2. karena pekerjaan mendapat keluarga? bagi saya kalimat kedua lah yang sebaiknya kita lakukan. Maksudnya gini, kalimat pertama mengandung makna Ka Ka eN. Biasalah minta bantu om, tante, sepupu, kakek, cucu *ups! ngaco* pokoknya begitulah, karena ada bantuan dari orang2 terdekat sehingga kita bisa mendapatkan suatu pekerjaan. Parahnya lagi kalau ternyata kita *yang kerja krn dibantu klrg* tidak dapat bekerja secara profesional. Bikin malu!

Beda jauh dengan kalimat kedua, dengan usaha sendiri secara jujur bisa mendapatkan pekerjaan dan setelah bekerja ada kenalan2 baru yang otomatis menambah silaturahmi n akrab bagaikan keluarga. Nikmat bukan?!

Masih ada saja di kantor yang karyawannya tidak bekerja secara profesional dengan berbagai sebab. Yang lucunya mereka *oknum* memandang seseorang berdasarkan anak siapa, keturunan mana, dll. Uh, capek banget gaul dengan mereka yang punya pikiran gitu. Hari gini masih aja bawa2 nama keluarga. Lagipula gak penting anak siapa, yang penting kamu bisa kerja atau tidak? Saya pernah ketemu kasus begini, ada bawahan yang ternyata anak pejabat tingkat tinggi. Nah atasan nya itu malah lebih tunduk kepada bawahannya karena takut embel2 anak pejabat tadi. Takut dilaporkan ke bapak si bawahan kalo dia *atasan* tidak “baik2” ke bawahannya. GILEEEEEEEEEEEEE…! ntah gimana masa depan kantor tersebut.

Persoalan like/dislike juga menjadi persoalan dalam dunia kerja. Memang karakter dan sifat orang berbeda. Kadang ada yang cocok dan tidak. Wajar lah, namanya juga manusia. Untuk mengerjakan proyek tertentu dipilih2 orang yang satu “aliran” walo orang tersebut blm tentu bisa mengerjakan proyek. Masih ada orang lain yang lebih pantas untuk mengerjakan proyek, tp karena satu dah lain hal shg orang itu tidak dilibatkan.

Dari gambaran umum di atas, kadang shock melihat hal yang tidak seharusnya terjadi. Tapi memang terjadi. Nyata! Hal di atas tidak terjadi di seluruh kantor, hanya kantor2 tertentu saja.

Semestinya ini bukannya sesuatu yang mengherankan, semakin tua, kita semakin bijaksana. Kita hidup dan belajar, dan salah satu yang kita pelajari adalah menyeimbangkan emosi dan akal. Tetapi, pelajaran ini biasanya tenggelam, terkikis karena kadang2 bertentangan dengan tugas dan kerjanya realita.

Mengapa orang perlu profesionalitas dalam menjalankan pekerjaan? Yaaa..Karena tuntutan masyarakat inign mendapatkan pelayanan yang semakin meningkat mutunya untuk hasil yang lebih baik. Setiap profesi harus bisa menyesuaikan dengan permintaan masyarakat agar tidak “ditinggalkan”.

Wallahu’alam

About these ads
 
47 Comments

Posted by on May 8, 2008 in belajar, cerita, eXPi, guru

 

Tags: , , ,

47 responses to “profesi, profesional, profesionalisme, profesinalisasi dan profesionalitas

  1. Sawali Tuhusetya

    May 8, 2008 at 11:35 pm

    bener sekali bu ita. profesionalisme para pegawai, termasuk guru kali, ya, bu, hehehehehe :lol: masih sering dipertanyakan. ada banyak faktor yang memengaruhi. selain faktor rekruitmen yang sarat KKN, juga disebabkan oleh mengakarnya faktor kultural di mana sikap tidak disiplin dianggap sbg hal yang wajar terjadi. ketidakdisiplinan *halah sok tahu* inilah yang menyebabkan etos kerja pegawai di negeri ini paling payah dibandingan dg negeri jiran kita. semoga ke depan, para pegawai kita mulai menyadari hal itu. yups, selamat menjadi guru profesional, bu ita!

     
  2. mriza

    May 9, 2008 at 7:45 am

    Nah itulah indonesia (diliat dari sudut pandang gelapnya)…

     
  3. Yari NK

    May 9, 2008 at 8:00 am

    Saya dulu pernah membaca… entah di mana saya lupa lagi…. kalau rata2 orang Amerika lebih loyal atau setia pada profesinya, jadi kesimpulannya ia lebih loyal kepada profesi daripada tempat perusahaan di mana ia bekerja. Sedangkan orang Jepang sebaliknya, mereka lebih loyal atau setia kepada perusahaan tempat mereka bekerja daripada kepada profesinya.

    Nah, ini menimbulkan fenomena sendiri yg unik, di mana memang rata2 profesional Amerika memang jauh lebih punya daya saing dibandingkan dengan profesional2 Jepang, tapi….ironisnya karena orang2 Jepang sangat setia pada perusahaan2nya tempat ia bekerja, maka perusahaan2 Jepang lebih berkesempatan menjadi tumbuh besar dan sudah terbukti bahwa lebih banyak perusahaan2 Jepang yang lebih bisa bertahan di era seperti sekarang ini dibandingkan dengan perusahaan2 Amerika.

    Jadi kesimpulannya kalau secara individu, orang2 Amerika sepertinya masih unggul, tapi berbicara mengenai kerja kolektivitas dan kebersamaan, Jepang jauh di atas Amerika.

    Nah, sekarang buat Indonesia bagaimana ya?? Tentu bagusnya pasti klise ngambil kedua2nya, tapi seandainya nggak bisa diambil keduanya secara optimal, bagaimana jalan keluarnya?? Nah lho! :D

     
  4. gempur

    May 9, 2008 at 9:36 am

    berad sangad wacananya.. bener-bener guru profesional.. salut saja bu pada anda… apakah tulisan ini lahir dilatarbelakangi kondisi tempat anda bekerja sekarang?

    hehehehehee.. maap

     
  5. ridu

    May 9, 2008 at 7:36 pm

    ridu biasanya konteks profesional itu disandingkan dengan amatir.. membedakan yg dapet duit sama yg dapet ucapan trima kasih.. heheeh..

     
  6. Ikkyu_san

    May 10, 2008 at 3:47 pm

    Menambahkan komentar Yari…yang penting di perusahaan Jepang adalah sense of belonging. Karenanya di Jepang jarang orang Jepang pindah kerja. Lain dengan orang asing lainnya, sepertinya menclok-meclok ke perusahaan yang paling sesuai dengan keinginan dia itu biasa.

     
  7. realylife

    May 11, 2008 at 5:18 pm

    betul banget bun
    profesional harus ada dalam hati kita
    sepertinya ada relevansi dengan postingan saya

     
  8. GR

    May 11, 2008 at 9:47 pm

    Kalo profesionalisasi, profesionalisius, profesionalisir? Gimana, bu?

    *huu.. bru dtg ud ngaco nih* :D

    heheu… salam kenal ya, bu.. :)

     
  9. motosuki

    May 12, 2008 at 5:31 am

    ngomong2 soal profesi, terutama guru dan dosen, sepertinya niat baik pemerintah untuk mensejahterakan guru dan dosen masih terhambat tuw….. guru mungkin lebih mendingan daripada dosen, karena program sertifikasi guru sudah mulai berjalan. Dosen? belum2 lagi sampe sekarang ^^;
    Jadi untuk sementara waktu, profesi dosen masih menang elit doang, ga menang di sisi penghasilan :(
    Karena hal itu lah saya jadi terjun ke profesi lain, ngarsitek :p

     
  10. Deni Triwardana

    May 12, 2008 at 8:23 am

    Alhamdulillah saya jadi punya referensi untuk kata-kata di atas. BTW semga EnPE jadi PNS yang profesional ya…

     
  11. nh18

    May 12, 2008 at 11:44 am

    Setuju ibu …
    Namun untuk masalah cocok-cocokan memang kita cenderung untuk lebih enak bekerja dengan orang yang cocok dengan kita …

    Yang harus kita pegang adalah orang yang cocok dengan kita haruslah juga orang yang “berkompeten” alias mampu …

    Bukan begitu ???

     
  12. Pipiew

    May 12, 2008 at 12:17 pm

    haha..ade yang lagi stress di tempat kerje baru ni.. :D
    welcome to the real world sist.. bagaimana cara menyikapi & membuat perubahan *bertahan, bukan mengikuti arus*, keknya itu poin utamanya. Cayoo Sist…!! :D

     
  13. tika Bangedzzzz

    May 12, 2008 at 1:18 pm

    bu..sekali sekali isi tentang gosip seleb yg terbaru lah..pasti seru tuch..haghaghaghaghag

    pokokna gosip yg belum beredar di TV2 lah…ok..haghaghaghagha

    bu di +hin la layout na,,biar nampak cantik web na..

     
  14. eNPe

    May 21, 2008 at 7:14 pm

    # sawali
    sebenarnya byk yg sadar akan hal itu tp “seolah2″ gak tau n gak mau tau :(

    # mriza
    huehehehe…

    # Yari NK
    ita gak tau pak gmn jalan keluarnya :(
    semoga saja kit abisa meniru hal2 yang positif dari

    # gempur
    gak berat, pak. saya biasa posting apa yg terlintas dipikiran n hati jadi ngalir begitu aja :D

    # ridu
    itu cara mudah menilai orang :P

    # Ikkyu san
    oh begitu yang terjadi pada orang Jepang. mantap lah :D

    # realylife
    huehehehe..kita saling melengkapi

    # GR
    wah kalo itu saya gak tau. salam kenal juga :)

    # motosuki
    ade pa’ocen yg ngiri k? kan dah mau es dua,kekeke..

    # deni
    sama2 pak n thx atas doanya. semoga bapak juga jadi guru yg profsnl. amiin

    # nh18
    iya, pak. memang lebih enak kerja dgn yg cocok tp kalo maksa “dicocokin” kan repoooooooooot :D

    # pipiew
    ok lah, adikku. kita bertahan *istiqomah* dijalur yg benar

    # tika
    hiyh..ni anak ada2 aja.. thx dah mampir ke blog ibu

     
  15. Dino

    August 31, 2008 at 12:57 pm

    Salam Kenal buat Mbak Nurita,
    Pengennya cari artikel mengenai jenis-jenis profesi yang dilakoni orang Indonesia, eh taunya nyasar di Blog ini.

    Request aja, Kira2 Profesi apa yang bisa buat sandaran Mahasiswa Jurusan Komunikasi?

    Trim’s B4

    =======
    huehehehe..nyasar ya?
    hmm..kalo jurusan komunikasi bisa ke menekuni profesi reporter, editor, presenter, penceramah, pemimpin redaksi, penulis, pemilik penerbitan, penerjemah, dosen, konsultan komunikasi, knowledge officer/manager, public relation officer, account executive, event organiser, aktivis ornop/LSM, pelobi politik dan bisnis, diplomat, dan lain-lain :D

     
  16. hmcahyo

    December 3, 2008 at 1:10 pm

    ikutan komen :)

     
  17. Martini

    March 2, 2009 at 6:38 pm

    Assalamualaikum…..
    salam knal mbak…. Thank you bgt ya mbak brkat mbak,tugas kuliah mata kuliah profesi pendidikan saya selesai… :-)

     
  18. Agung

    March 11, 2009 at 12:07 pm

    Berarti dosen-dosen saya kurang profesional donk

     
    • jonathan

      March 8, 2010 at 6:53 pm

      Salam kenal, saya lagi cari kata profesionalisme dan ketemu blog ini.Trims untuk ide-idenya menjawab teman-teman.Saya ada pertanyaan:” Kalau rohaniawan, itu masukkatogori profesional atau tidak?” trims ya bu GBU.

       
      • nurita putranti

        March 13, 2010 at 9:04 am

        salam kenal juga, terima kasih sudah mampir *nyasar* kesini :)
        iya, termasuk yang profesional

         
  19. remi

    March 25, 2009 at 12:30 am

    pada jaman dahulu kala, komputer hanya dipahami oleh programer, saat ini semua orang di semua bidang bisa menggunakan komputer, semua karena jasa programer.

    Apakah pendidikan indonesia berkebalikan dengan ini, semakin ke depan hanya dari orang lulusan PTN pendidikan yang bisa mendidik atau menjadi guru.

    note: tidak semua orang memperhatikan siapa programer yang membuat program yang digunakan. Hidup blog, tapi tidak hidup dengan sekumpulan programer yang mewujudkannya……

     
  20. jonathan

    March 8, 2010 at 6:56 pm

    Bu saya mau tanya, ” kalau kelompok rohaniawan, bisa dikatagorikan kaum profesional?” trims bu dan salam kenal

     
  21. Athmi

    April 22, 2010 at 7:09 am

    Thx y bu,ats blogx..
    Mantp dah..Hehe
    oa bu bs ks cntoh kalimat tUk istlah profesionalisasi dan profesionalitas ga??

     
  22. Ossy

    May 24, 2010 at 10:23 am

    Wuszz…keren dah blog’na,,:-D
    merci madame,
    berkat tulsn madame akhir’a slse tgs pip…
    N terbebas dari omelan, heghe..:-D

     
  23. eka

    September 20, 2010 at 5:59 am

    siip,,,makasih infonya…

     
  24. Mulyono HAM

    September 24, 2010 at 4:11 am

    T’sih atas informasinya.

     
  25. jamilah

    October 10, 2010 at 7:10 pm

    terimaksih

     
  26. abinahasya

    December 9, 2010 at 10:28 pm

    betul banget bu, udahmah enggak prof, eee..sok menggurui lagi, sok pinter, bagusnya orang kayak gitu dikarungin deh. Lam kenal ya

     
  27. Peter Adi Saputro

    December 10, 2010 at 9:32 am

    Artikel ringkas yang bagus. Terima kasih juga buat definisi yang sudah Anda berikan untuk profesi, profesional, profesionalisme, profesionalisasi, dan profesionalitas. Melalui definisi yang Anda berikan, saya jadi lebih paham tentang makna kata-kata tersebut, sebab sebelumnya saya hanya mengetahuinya sekilas saja.

     
  28. indri

    December 13, 2010 at 9:29 pm

    trims bu atas artikel ini, salam kenal dari sy

     
  29. damz iz back

    February 12, 2011 at 8:25 pm

    thank you atas info’y…mdah2an brmanfaat..:)

     
  30. chama marssy

    March 22, 2011 at 6:38 pm

    mba nurita, apakah pofesional juga bisa di artikan dengan istilah dlm khidupan sehari-hari….

     
  31. ale sholeh

    March 29, 2011 at 10:50 am

    Wuszz…keren dah blog’na,,:-D
    merci madame,
    berkat tulsn madame akhir’a slse tgs pip…
    N terbebas dari omelan, heghe..:-D

     
  32. Nuraeni

    August 19, 2011 at 9:59 am

    blognya bermanfaat ..
    thank’s…:)

     
  33. Hidayah Baisa

    September 26, 2011 at 9:45 am

    Syukron, alias thankyou, Sekali lagi makasih ya………. karena aku dapetin yang lagi ku cari-cari, itu lho perbedaan makna dari istilah-istilah di atas. udah gitu tulisannya santai jadi enteng bacanya……he…he…

     
  34. wahidah

    December 23, 2011 at 2:03 pm

    slm knl tlsn’y enk bgt d bc g bkn boring

     
  35. wahidah

    December 23, 2011 at 2:05 pm

    slm knl tlsn’y enk bgt d bc g bkn boring pkk’y muanteppp get

     
  36. Ona

    January 22, 2012 at 6:51 am

    Bgus jga wkwkxj

     
  37. Pipin Yu Single

    February 24, 2012 at 9:19 pm

    terimakasih banyak pengetahuan nya

     
  38. Hadi siswono

    June 1, 2012 at 7:05 am

    Emang indonesia it cuma OMDO alias otak besar

     
  39. nadine putri

    November 26, 2012 at 6:33 pm

    Memang sangat benar,qt dlm pekerjaan harus ada yg di namakan profesionalisme.
    Diknyataannya di tempat saya bekerja,atsan aturan yg tlah di buat hanya karena keluarganya.ia bahkan tidak mengindahkan aturan trsebut yg sudah di buat oleh menejer yg sebagai org yg dikatakannya sdh sepenuhnya di percayai olehnya dlm mengelola perushaan ini.trimkasih,,,

     
  40. Sofyan fals

    August 1, 2013 at 12:32 am

    Mari kita jaga kerja yang profesional

     
  41. reggie

    September 24, 2013 at 3:02 pm

    memang kita harus professional.
    tidak perlu memandang dia keluarga atau apalah..

     
  42. nurliana

    February 26, 2014 at 1:43 pm

    sikap yang sangat di tunggu oleh dunia yakni sikap profesional……. namun belum begitu banyak terbukti…..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 113 other followers

%d bloggers like this: