Gara2 Sertifikasi, Guru2 Melek IT

 

Berbagai sambutan positif dan negatif terhadap kebijakan pemerintah untuk men-sertifikasi para pendidik. Dalam pelaksanaan yang masih simpang siur, amboeradoel *tkp01 mode on*, ancorlebor *tkp02 mode on*, acakadul *tkp03 mode on* serta istilah2 lain yang sering kita dengar dari mereka yang melaksanakan sertifikasi. Saya sendiri belum melaksanakan sertifikasi *lah wong baru CPNS* jadi tidak mengalami langsung apa yang diceritakan rekan2 guru. Walaupun blm ikut, perihal penjelasan sertifikasi sudah saya terima waktu kul akta 4 dan sampe skrg masih blm mudeng, kekeke.. Ternyata teori dan praktek sangat jauuuuuuuuh penerapannya.

Mari kita bahas sisi positif dari adanya sertifikasi ini. Saya fokuskan terhadap IT Selain mengharuskan guru2 untuk melanjutkan S1, peraturan lain membuat guru menjadi lebih kreatif, inovatif dll sehingga terus belajar dan belajar. Kalau dulu, silabus, PROTA, PROSEM, RPP/SP sampai perangkat pembelajaran dibuat seadanya namun kini guru mau tidak mau sebaiknya menggunakan IT. Guru sebaiknya menggunakan komputer *tidak tulis tangan atau mesin tik* untuk membuat silabus, PROTA, PROSEM, RPP/SP sampai perangkat pembelajaran.

Mulai belajar ngetik menggunakan Ms. Word. Yang sudah bisa mengetik, mulai belajar Ms. Powerpoint untuk presentasi bahan ajar. Bahkan membiasakan diri jalan2 ke dunia maya agar mendapatkan informasi yang lebih akurat n terbaru.

Guru2 yang sebagian besar di atas 40 thn, dengan perjuangan mulai membelai mouse, masih malu2 menekan mouse tapi begitu sudah terbiasa tidak mau melepaskan mouse. Ingin meng-klik, drag-drop dengan gerak tubuh yang juga mengikuti arah kursor. Ada lagi yang begitu bahagia bisa membuat animasi menggunakan Ms. Power Point. Ada gambar bergerak2, kata2 bergeser dari kiri-kanan-atas-bawah. Atau huruf2 yang jatuh satu per satu dari atas, hingga membentuk kalimat. Lain lagi yang sudah bisa mengetik lalu belajar internet. Mulai buat email, browsing untuk bahan ajar serta chatting untuk saling berbagi informasi. Saya berusaha untuk ”meracuni” guru2 untuk ng-Blog sehingga nantinya banyak yang menemani saya sebagai guru Go Blog dari Pontianak. Insya Allah…

Saya cerita begini bukan untuk ditertawakan tapi mari kita lihat sisi positifnya yaitu semangat belajar para guru dalam upaya memperbaiki diri sehingga bisa memberikan yang terbaik bagi anak didiknya. Saya salut dengan mereka yang masih terus belajar diusia senja.

Never old to learn.

Wallahu’alam

 

Advertisements

27 thoughts on “Gara2 Sertifikasi, Guru2 Melek IT

  1. Pertamaxx…!!
    maklumlah acakadul, masih masa transisi ya toh?? 😀 segala kebijakan yang baru diterapkan kan selalu begitu, butuh adaptasi.
    Syukurlah kalau pada akhirnya nemuin juga sisi positif-nya, tergantung dari sudut mana kita memandang, gitu ya? hehe..
    Salut buat para bapak & ibu yang masih semangat belajar, Ayoo yang muda..masa’ kalah ma seniorr?? :p

  2. Premium aja dehh 😀

    emang harus, IT adalah masa depan, kalo gak bakalan ketinggalan tuh negri ini ato guru² bisa di bodoin ama siswa nya.

  3. Yah.. minyak tanah g masalah asal harganya g naik lagi.. 😆

    Yup, saya setuju juga salut mbak.. Beliau2 yang masih mau belajar harus dihargai.. n never old to learn

  4. Bentar.. bentar…
    Minyak sama sertifikasi apa hubungan nya..??
    Apa penujal minyak perlu di sertifikasi juga.,..?

  5. melek TI bukan gara sertifikasi, tapi semua orang mulai sekarang harus dudah tidak TUNA TI lagi. maka dari itu guru yang BERSIFERTIFAT HANDAL harus bebas dari berbagai TUNA

  6. sepakat banget sama bu ita. tujuan sertifikasi guru itu memang bagus. memang disayangkan kalau penilaiannya berupa pengumpulan dokumen portofolio yang rawan manipulasi. mudah2an program itu bisa terus memacu semangat rekan2 sejawat utk meningkatkan kompetensinya.

  7. Jangan ragu untuk terus dan terus dan terus dan terus dan terus dan terus belajar!! :mrgreen:

    Saya sendiri yang usianya masih hampir kepala 4, tapi masih semangat belajar apa saja! Nggak kalah sama Mbak Ita yang muda2 dalam semangat belajarnya!! Huehehe….. 😀

  8. Yup ..
    Tidak ada kata terlambat untuk belajar …

    Perkara “percepatannya” yang sudah melemah …
    itu bisa disiasati kok …

    do not worry …
    Maju Terus Guru Indonesia !!!

  9. wah.. setuju banget mba, kebetulan ridu juga terjun langsung dalam pelatihan komputer untuk guru2 gitu.. dan emang, mereka masih kaya takut gitu megang mouse segala macem.. ya kalo udah terbiasa, kan gak kagok lagi..

    jadinya kan bisa melek IT, hehehe.. nice mba ita..

  10. Assalamualaikum wrwr….

    memang banyak sekali keuntungan dari diadakannya sertifikasi ini, bukan hanya melek IT, tetapi juga mereka para guru sering mengikuti kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada pendidikan terutama seminar-seminar. yang dulunya mungkin para guru agak alergi yang namanya seminar (jangankan mau ikut dengernnya aja cuek bebek…apalagi kalau ada biaya pendaftaran). tetapi kasian juga tuh ama guru-guru yang ada di daerah, bagaimana mereka mau menal IT dan mengikuti Seminar-seminar, kalau sarana dan prasarana tidak memadai bahkan tidak ada (mis: internet )… moga aja nanti ada solusi or ada upaya dari pemda atau sekolah untuk mengatasi hal ini. saya terpikir oleh kata-kata seorang profesor yang mengajar di Untan(saya Lupa namanya) “dengan adanya tantangan akan membawa bangsa ini kepada suatu perubahan”..
    sedikit informasi, kami dari BEM FKIP rencanannya, Selasa 27 Mei 2008 akan mengadakan Seminar Guru “Menggugat UAN. UAN Tidak Efektif Sebagai Standar Kelulusan, Benarkah?” sekarang masih dalam pematangan konsep. Insyaallah, nanti kita akan mendatangkan 4 (empat) nara sumber yaitu dari Guru, Mahasiswa, Akademisi(Dosen) dan Pihak Diknas Sebagai pelaksana dari UAN. Bisa berminat silahkan hubungi kami atau datang ke Sekretariat BEM FKIP UNTAN….
    Wasallam….

  11. Harus ituuuuuuuu…
    Biar gak hanya ngejar gedenya penghasilan, tapi juga gede kualitas, profesional, yang pada akhirnya bangkitlah mutu pendidikan di negeri ini.
    Hudup GURU!!!!!! 😀

  12. Harus ituuuuuuuu…
    Biar gak hanya ngejar gedenya penghasilan, tapi juga gede kualitas, profesional, yang pada akhirnya bangkitlah mutu pendidikan di negeri ini, meski udah 100 tahun tp serasa indonesia blm bangkit2… nah dengan meningkatnya kualitas guru mudah2 indonesia akan bangkit diawali dengan dunia pendidikan.Amiiiiiiiin
    Hudup GURU!!!!!! 😀

  13. # pipiew
    keluar juga “acakadul” :p

    # Wiznu
    lama2 kalo guru gak melek IT ntar guru belajar dari murid krn gurunya gaptek

    # axazs
    kok ada bahas minyak tanah 😕

    # Pujangga
    salam kenal juga 🙂

    # mriza
    minyak vs sertifikasi? sm2 lagi dibutuhkan 😛

    # agus sampurno
    iya, pak. kalo racun postif terkadang lama menyebar n tertular 😦

    # awan sundiawan
    terima kasih atas pencerahannya,apk. Kita memang harus bebas dari TUNA TI

    # diorockout
    thx yaa…

    # natazya
    semoga bisa seperti itu 😀 thx

    # sawali
    hu’uh, pdhl rugi bgt guru *oknum* yg curang. mending mereka bljr dulu daripada membohongi n membodohi diri sendiri

    # Yari NK
    wah…kalo bapak mah, gak perlu diragukan lagi utk hal belajar. malah lebih byk mengajar *scr gak lgsg* 😛

    # adhit
    huehehehe…ya,begitulah

    # nh18
    iya, pak. selama masih hidup, masih harus terus belajar

    # ridu
    atas nama guru, mba ucapkan terima kasih krn ridu udah bantu guru2 utk melek IT

    # majidbsz
    wa’alaikumsalam.terima kasih atas informasinya. kalau sudah pasti, ntar saya ke kampus. dueee jadi kangen dah lama gak k FKIP UNTAN 😀

    # bang ichan
    amin…thx, bang

    # Edi Psw
    iya, pak 🙂

    # oke
    hiduuup..!!

  14. yang penting “belief” nya dulu yang diracuni. kalau sudah percaya dia bisa berkomputer atau berinternet ria, pasti teknisnya bisa dipelajari. yang susah, kalau sudah nggak punya kemauan belajar dan tidak punya kepercayaan diri. mau dipaksa gimanapun pasti akan susah. selamat sertifikasi…halah, nyambung nggak sih?

  15. Sangat setuju, jangan kalah dengan muridnya yang lebih jago browsing, friendster, dan buat blogger. Tapi karena kebanyakan guru2 yang sudah agak senior males belajar, jadi suka minta tolong sama guru yang muda2.
    Tapi, saya yg barusan ikut Diklat Sertifikasi Guru (karena gak lulus porotfolionya), RPP maupun tugas2 lain dalam diklat TIDAK Boleh di print, harus tulis tangan, agar tidak Copy paste

  16. # heryazwan
    huehehhehe…nyambung kok. itu kembali lagi ke individu msg2 masih mau bljr ato gak? segala sesuatu yg dipaksa, hslnya gak optimal 😀 *halaah sok tau*

    # Sir Indajawati
    iyah, guru2 mari terus bljr demi perbaikan pendidikan Indonesia…
    ouw..gitu ya? dapat info baru neh. maap soalnya ita blm ikut sertifikasi jadi gak tau aturan baru itu. thx ya 🙂

  17. imbasnya gw sebagai KKN PPL di SMANX Yogyakarta serasa “dimanfaatkan oleh guru” karena adanya sertifikasi.. Mana di kampus gak mudeng ttg apa itu prota prosem dlsb.. Tambah lagi si guru kasih Deadline 1agustus telah jadi prota prosem rpp dan segenap perangkat pembelajaran..

    ========
    seharusnya bersyukur PPL sudah dimanfaatkan buat ini itu jadi ketika sudah tidak PPL lagi bisa kerja lebih mudah karena telah ada pelatihan terlebih dahulu 😀

  18. Gara2 sertifikasi, Bapak dan Ibu Guru pun rajin ikut seminar dan pelatihan ya? 🙂 Penyelenggaran seminar dan pelatihan pun menjamur, asal jangan sekedar bagi2 sertifikat seminar atau pelatihannya saja ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s