Mengawas USBN kemarin terasa berbeda karena adanya suara kodok yang nyaring dan bunyi rintik-rintik hujan yang membasahi lingkungan sekolah. Satu jam ujian berlangsung, peserta ujian sudah ada yang terbaring dimeja, ntah karena sudah selesai atau menikmati udara sejuk hehehe.

Berada di daerah perkotaan, agak sulit menemukan kodok. Apalagi Kota Pontianak minggu lalu baru mengadakan acara titik kulminasi. Otomatis cuaca sangat panas.

Bahagia jika mendengar suara kodok karena bisa menjadi tanda bahwa akan turun hujan. Kodok akan berbunyi lebih keras dan nyaring saat hujan turun. Seteleh turun hujan pun suara kodok malah semakin kencang kita dengar. Kodok senang ketika hujan datang karena mereka lebih suka lingkungan yang basah dan gelap.

Menurut Kim Eun Bin dalam 101 Keganjilan Sains, kodok lebih peka terhadap perubahan kelembapan dibandingkan manusia. Sebelum turun hujan, bernapas dengan kulit menjadi semakin mudah. Oleh karena itu, saat turun hujan bernapas melalui kulit menjadi sangat mudah sehingga perasaan kodok menjadi bahagia dan mereka pun bersuara nyaring.

Sebagai binatang yang hidup dua alam atau amfibi, paru-paru yang dimiliki oleh kodok tidak sempurna dan fungsi pernapasan yang dibantu kulit. Kulit kodok harus terus basah untuk bisa bernapas. Saat hujan, udara tentu lembab dan kerapatan udara akan semakin tinggi sehingga tidak baik untuk kodok karena akan mempersulit udara yang masuk melalui kulitnya. Akibatnya kodok menjadi kesulitan bernafas secara normal. Untuk mengatasi hal tersebut, kodok akan menarik nafas dalam-dalam dengan cara membesarkan rongga dada, membuat saluran nafas kodok menjadi bergetar sehingga terdengarlah bunyi kodok yang lebih nyaring.

Suara kodok dan rintik hujan menemani para peserta ujian hingga berakhirnya waktu ujian.

Referensi : http://www.sainsindonesia.co.id/index.php/rubrik/iptek-a-remaja/747-saat-hujan-mengapa-suara-kodok-lebih-nyaring

Advertisements