Pendidikan Sebagai Ekskalator Kemajuan Bangsa

Perihal pendidikan menjadi berbincangan yang hangat dan seru diberbagai media, baik itu media cetak maupun elektronik. Perlakukan buruk oknum dilingkungan pendidikan terhadap anak didik secara tidak langsung akan merusak pendidikan itu sendiri. Tidak hanya bagi lembaga pendidikan atau sekolah tetapi bagi pendidikan seluruh Indonesia. Karakter, sistem pendidikan dan kualitas pendidik menjadi faktor yang harus dibenahi agar pendidikan bisa menjadi eksakalator kemajuan bangsa.

Mengutip ucapan Wakil Presiden Boediono bahwa “bangsa yang maju dan berkesinambungan adalah bangsa yang mengandalkan sumber daya manusia dan pendidikan adalah kunci. Karakter melekat pada hati, sikap, dan pandangan mendasar, sehingga tidak bisa dengan menghapal atau menghitung. Namun, bisa dengan mencontoh. Oleh karena itu, tugas pendidik atau pengajar untuk mendidik dan memberi contoh. Selain karakter adalah integritas, yakni satu kesatuan antara kata-kata dan perbuatan.” Jadi pemerintah, dinas pendidikan, guru tidak hanya memberikan perintah tanpa contoh atau keteladanan yang sesuai dengan perkataan.

Jika pendidikan memiliki sistem yang otomatis maka diperlukan pendidikan yang saling sambung menyambung dari SD sampai SMA. Wajib belajar 12 tahun sudah baik tetapi peserta didik ditanamkan karakter untuk mencari dan menemukan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Bukan sekolah untuk mencari nilai ketuntasan. Untuk apa nilai tinggi tetapi tidak dibuktikan dengan pengetahuan keterampilan yang tinggi seperti nilainya. Kesetaraan kurikulum pendidikan menjadi penting bagi seluruh sekolah atau lembaga pendidikan. Biaya pendidikan sudah digratiskan tetapi belum seluruh rakyat Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Beda sekolah, beda kurikulum. Sekolah swasta beda kurikulum dengan sekolah negeri. Tugas bagi pemerintah untuk menganalisis, turun langsung ke lapangan agar bisa memutuskan bagaimana kurikulum yang baik untuk bangsa Indonesia. Tidak sekedar studi banding kesana-sini. Tingkatan kurikulum disesuaikan dengan jenjang sekolah yang ada. Jadi tingkat kemudahan sampai kesulitan suatu materi benar-benar sesuai pemikiran siswa yang bersangkutan. Contohnya saja materi TIK, di SD-SMP-SMA sama ada materi pengolah kata dan pengolah angka. Itu sangat mubazir. Kembalikan mata pelajaran TIK ke kurikulum dengan pergantian materi yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Faktor lain yang harus diperbaharui adalah guru atau tenaga pendidik. Kualitas guru setiap tahun ditambah, bukan sekedar ikut pelatihan untuk sertifikat tetapi guru yang bisa berinovasi, kreatif dan memotivasi anak didik. Bukan orang yang cuma transfer ilmu, karena sekarang ilmu bisa saja dicari diinternet. Bahkan sekarang anak didik bisa lebih pintar dari guru. Kesejahteraan para pendidik tetap diperhatikan, disesuaikan dengan unjuk kerjanya. Diperlukan guru dengan semangat dan jiwa pendidik untuk bersama-sama memperbaiki pendidikan Indonesia. Walaupun sekolah dalam keadaan yang tidak layak, jika ada guru yang mau dan mampu mendidik maka pendidikan bisa terus berjalan.

Mari terus belajar dan berbagi untuk perbaikan pendidikan Indonesia. Semoga🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s