Operasi 3 in 1

Tulisan ini rencananya saya publish tanggal 27 Februari 2014 tetapi karena sesuatu dan lain hal, tanggal 27 tulisan lain yang saya posting. Yang parahnya saya sudah menulis tentang Kejadian setelah operasi 3 in 1, padahal cerita operasi 3 in 1 belum selesai. Ditulisan tersebut ada diceritakan sedikit tentang operasi 3 in 1 tetapi tidak detail.

Okelah sekarang saya ceritakan lengkapnya apa operasi 3 in 1 itu. Cekidot…

Dua tahun telah berlalu…..

Kejadian yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Infus pertama yang saya gunakan setelah 28 tahun ada di dunia.
Akhir Februari 2012 prediksi hari perkiraan lahir anak kedua saya.

Hari Sabtu, 25 Februari 2012 saya tidak mampu untuk pergi mengajar. Izin ke kepsek  via telpon saya lakukan. Kaki terasa ngilu, kram. Perut sesekali seperti disayat silet. Bangun dari tempat tidur hanya untuk ke wc/kamar mandi. Makan pun saya lakukan di atas tempat tidur.

Hari Minggu, Tanggal 26 Februari 2012, Jam 0.00 WIB sakit perut, badan panas dingin, kaki tidak bisa digerakan. Tak sanggup turun dari tempat tidur atau bergerak. Orang tua dan suami heboh, kalut, bimbang, khawatir, semua bercampur aduk. Apakah ini tanda-tanda mau melahirkan? Dalam hati saya berkata rasanya berbeda dengan saat sebelum melahirkan anak pertama. Tengah malam itu, laki-laki keluarga besar dari orang tua saya berkumpul dirumah. Ada yang bawa obat medis dan obat tradisional, saya dipijit, diberi minyak, entah apalagi usaha yang mereka lakukan untuk memperbaiki kondisi saya. Diputuskan jam 01.00 membawa saya ke rumah sakit.

Hujan deras, banjir mulai menampakkan dirinya di tengah kota Pontianak. RS pertama yang kami didatangi adalah RS terdekat dari rumah.

Sampai di RS tersebut, ada dokter jaga, ada perawat dan beberapa mahasiswa yang sedang magang. Saya langsung diminta jalan ke ruang bersalin untuk memeriksa pembukaan berapa. Saya tidak kuat untuk berjalan, suami meminta perawat untuk membawa kursi roda. Kursi roda datang, perawat mendorong saya, tetapi saya dipisahkan dari suami. Kemana suami saya?? Kata perawat, “suami ibu lagi ngurus administrasi di bagian depan”. Di ruang bersalin saya di tensi, trus di rogoh kemaluan saya untuk memeriksa pembukaan berapa. “Baru pembukaan dua, bu. Ini masih lama, ibu istirahat aja dulu, nanati saya periksa lagi”. Perawat pun pergi meninggalkan saya, hanya satu orang mahasiswa yang menemani saya, itupun dia sambil bermain hp. Ampun dah, perawat tadi tidak menghiraukan rasa sakit saya. Keluhan saya hanya dikomentari, “itu biasa bu, sakit sebelum melahirkan”. Bukan-bukan sakit sebelum melahirkan karena saya sudah pernah melahirkan secara normal untuk anak pertama. Saya meminta mahasiswa tadi untuk memanggil suami saya. Dia keluar, saya sendirian di ruang bersalin. Tidak lama kemudian suami saya datang, dengan wajah emosi dan kesal bertanya “kenapa ibu sendiri?”. Saya jawab “tadi ada mahasiswa tetapi ibu minta tolong panggilkan bapak karena perut semakin kuat sakitnya tapi entah kemana mahasiswa tersebut”. Suami saya langsung membangunkan saya dari tempat tidur dari membantu saya duduk di kursi roda. “Kita cari RS lain saja, bu. Repot banget disini, ibu ditinggal sendirian, bapak disuruh isi ini itu, minta fotocopy ktp suami istri, ada surat pertanyaan dsb”. Ketika suami saya mendorong kursi roda, mahasiswa datang dan terkejut ternyata suami saya sudah ada di ruang bersalin. Mahasiswa yang mendorong saya ke pintu keluar RS. Hujan masih turun dengan derasnya. Saya dan mahasiswa menunggu bapak saya memutar mobil sampai di depan teras RS.

Satu kalimat singkat yang diucapkan mahasiswa : “Oh, ibu pakai mobil…”. Sungguh saya terkejut, kenapa mahasiswa berkata seperti itu. Dan..saya tau penyebabnya…saya datang mengenakan daster, tidak sempat untuk berganti baju karena sakit yang tak tertahankan. Suami saya menggunakan celana pendek dan kaos oblong. Ini penyebab kami tidak dilayani dengan baik, sekedar di tensi dan dilihat pembukaan berapa tanpa ba bi bu langsung dibiarkan di ruang bersalin. Penampilan kami seperti orang miskin yang tidak mampu bayar RS??? Berbagai pemikiran dan pertanyaan mengelilingi otak saya sambil kesal terhadap pelayanan yang tidak memuaskan. Kami berpindah ke RS agak jauh dari rumah, RS ini lebih besar dari RS sebelumnya.

Sampai di RS kedua, ada dokter jaga yang ramah memeriksa dan mendengarkan keluhan saya. Dua kali saya muntah ketika diperiksa dokter cantik itu. “Ibu tidak bisa melahirkan normal, kemungkinan ibu kena usus buntu”, begitu penuturan sang dokter. Saya tidak hanya di tensi, juga diperiksa urine dan darah. Saya dipasang infus untuk menopang kondisi lemah tak bedaya. lalu dokter jaga baru berbicara dengan suami saya tentang operasi yang harus segera dilakukan, pemilihan dokter untuk sesar dan bedah usus buntu sampai penempatan di kamar mana setelah saya operasi.

Didapatkan hasil, jam 12 siang saya akan operasi sesar dan usus buntu. Sejak dini hari saya diminta puasa.

Ini persalinan untuk anak kedua. Tidak menyangka akan di operasi karena merasa kondisi saya dan janin sehat, setiap bulan kontrol ke bidan / dokter kandungan. Lagipula sekitar 18 bulan sebelumnya, anak pertama dilahirkan secara normal.

Penyebab saya melahirkan secara sesar adalah saya ada usus buntu! Benar-benar diluar dugaan. Tidak pernah merasakan sakit atau gejala sebelumnya. Ternyata nyeri di perut yang saya rasakan bukanlah kontraksi mau melahirkan tetapi usus buntu yagn sudah bengkak dan harus di operasi. Sehingga tidak memungkinkan saya melahirkan normal demi keselamatan ibu dan bayi.

Okelah, operasi pun dijalani sekitar 3 jam. Loh, kok lama????

Pertama dokter kandungan membelah perut saya dan mengeluarkan bayi. Alhamdulillah, 45 menit operasi sesar dan bayi lahir sehat dengan panjang 51cm berat 3,4kg. Sementara dokter kandungan dan perawat menangani bayi saya, kini giliran dokter bedah 0yang melakukan operasi usus buntu. Tetapi sebelum itu, ternyata ada operasi lain. Operasi ini saya ketahui malam hari. Ketika bayi sudah diangkat, terlihat dan baru ketahuan ada kista di indung telur sebelah kanan. Kista sudah besar, bahkan terlihat dari foto yang diberika suami, kista seperti bernanah. Jadi sebelum meotong usus buntu, terlebih dahulu mengangkat indung telur kanan. Terakhir baru usus buntu dibuang. Dan perut saya dijahit kembali oleh dokter bedah. Yang buka dokter kandungan, yang nutup dokter bedah, hehehe…

Makanya saya sebut kejadian di 27 Februari 2012 itu operasi 3 in 1, sekali orpasi ambil 3 barang dalam diri saya, yaitu :

1).bayi,

2).indung telur yang ada kista dan

3). usus buntu.

Inilah cerita saya tentang pengalaman yang tidak terlupakan.

Semoga bermanfaat 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s