Kejadian setelah Operasi 3 in 1

27 Februari 2012 jam 12.00 WIB saya dioperasi sesar. Ini persalinan untuk anak kedua. Tidak menyangka akan di operasi karena merasa kondisi saya dan janin sehat, setiap bulan kontrol ke bidan / dokter kandungan. Lagipula sekitar 18 bulan sebelumnya, anak pertama dilahirkan secara normal.

Penyebab saya melahirkan secara sesar adalah saya ada usus buntu! Benar-benar diluar dugaan. Tidak pernah merasakan sakit atau gejala sebelumnya. Ternyata nyeri di perut yang saya rasakan bukanlah kontraksi mau melahirkan tetapi usus buntu yagn sudah bengkak dan harus di operasi. Sehingga tidak memungkinkan saya melahirkan normal demi keselamatan ibu dan bayi.

Okelah, operasi pun dijalani sekitar 3 jam. Loh, kok lama????

Pertama dokter kandungan membelah perut saya dan mengeluarkan bayi. Alhamdulillah, 45 menit operasi sesar dan bayi lahir sehat dengan panjang 51cm berat 3,4kg. Sementara dokter kandungan dan perawat menangani bayi saya, kini giliran dokter bedah yang melakukan operasi usus buntu. Tetapi sebelum itu, ternyata ada operasi lain. Operasi ini saya ketahui malam hari. Ketika bayi sudah diangkat, terlihat dan baru ketahuan ada kista di indung telur sebelah kanan. Kista sudah besar, bahkan terlihat dari foto yang diberika suami, kista seperti bernanah. Jadi sebelum meotong usus buntu, terlebih dahulu mengangkat indung telur kanan. Terakhir baru usus buntu dibuang. Dan perut saya dijahit kembali oleh dokter bedah. Yang buka dokter kandungan, yang nutup dokter bedah, hehehe…

Makanya saya sebut kejadian di 27 Februari 2012 itu operasi 3 in 1, sekali orpasi ambil 3 barang dalam diri saya, yaitu : 1).bayi, 2).indung telur yang ada kista dan 3). usus buntu.

Dua tahun sudah berlalu, saya sehat, begitu juga dengan anak kedua saya. Kini anak kedua saya beratnya 15kg dan tinggi 93cm.

Setelah operasi, saya dan suami sepakat untuk memasang alat kontrasepsi. Baca dari berbagai sumber, tanya sana sini, akhirnya saya memilih menggunakan alat kontrasepsi IUD. Info dari http://www.tanyadokter.com bahwa

IUD merupakan alat kecil yang dimasukkan ke dalam rahim. Sekali pemasangan, IUD dapat bertahan selama minimal 3 tahun, namun proses pemasangan IUD kurang nyaman. Efek samping IUD antara lain rasa nyeri di perut, lepasnya IUD sehingga keluar dari rahim, infeksi, IUD dapat menembus dinding rahim, serta beberapa pasangan mengeluhkan gangguan berhubungan seksual.

Praktis, simpel dan tidak repot seperti pil atau suntik. Begitu pemikiran saya saat itu. Saya memasang IUD yang berjangka waktu 5 tahun. Apa yang terjadi setelah operasi dan pemasangan IUD?

1. Diperut saya ada keloid. Mengutip dari http://www.tanyadokter.com,

Keloid merupakan pertumbuhan jaringan yang berlebih dalam proses penyembuhan luka. besar kecilnya keloid tergantung dari bakat keloid yang dimiliki oleh seseorang. Penganganan keloid yang paling umum adalah dengan menggunakan suntik kortikosteroid. namun apabila tidak ada perbaikan dapat dicoba alternatif lain seperti operasi bedah plastik, laser, atau krioterapi.

Saya sudah beberapa kali ke dokter kandungan untuk memeriksakan keloid. Menurut dokter, saya ada bakat keloid agak besar, jadi keloid di perut setiap tahun akan bertambah. Obat dalam dan salep yang diberikan dokter tidak dapat menghilangkan keloid, hanya memperlambat pertumbuhan keloid. Keloid bisa hilang jika dilakukan operasi bedah kecil, begitu penuturan dokter. Terkadang, keloid terasa gatal, pernah sampai berdarah karena saya garuk, hehe…

2. Ketika datang bulan / menstruasi / haid, perut sakit selain itu siklus haid saya selalu lebih cepat beberapa hari dari tanggal pada bulan sebelumnya. Darah yang keluar pun banyak. Banyak banget, sehingga saat darah itu keluar setiap 2 jam saya ganti pembalut. Haid saya berlangsung sekitar 7-8 hari, 2 hari pertama keluar flek lalu 3 hari keluar darah cair dan segar dengan jumlah yang banyak, 2-3 hari flek lagi baru selesai. Saya sudah pernah juga periksa ke dokter spesialis kandungan mengenai kondisi haid ini, apakah karena pengaruh indung telur kanan yang telah diangkat atau ada pengaruh lain? jawaban dokter adalah, karena alat kontrasepsi yang saya gunakan, yaitu IUD.

Untuk mengatasi kedua kejadian diatas, saya berusaha tetap menjalani hidup dengan sehat. Tidak terlalu memikirkan keloid dan haid dengan darah yang banyak, karena malah bisa stress dan mengganggu menjalani aktivitas sehari-hari.

1. Ketika Keloid gatal = saya oleskan salep, atau taburkan bedak lalu beraktivitas seperti biasa. Gatal tidak hilang, setidaknya sedikit terlupakan karena saya ada aktivitas, tidak diam atau tiduran.

2. Ketika haid datang = saya banayk minum air putih bahkan bisa juga air gula untuk menambah tenaga dan memperlancara peredaran darah. Mengkonsumsi vitamin untuk penambah darah agar kondisi badan tidak drop. Makan sayur yang berwarna hijau dan daging sapi/kambing untuk memenuhi kebutuhan zat besi. Buah nanas juga sering saya beli, selain saya suka buah nanas, ini berfungsi untuk memperkuat daya tahan tubuh. Satu makanan yang saya hindari saat haid adalah gorengan, rasanya lemes setelah makan gorengan jadi lebih baik dihindari, hehehe….

Begitulah perubahan kondisi tubuh yang saya alami pasca operasi 3 in 1.

Sumber Referensi :

http://www.tanyadok.com/kesehatan/mari-pilih-alat-kontrasepsi-yang-tepat

http://www.tanyadok.com/kesehatan/kala-si-haid-menstruasi-membandel

http://www.tanyadok.com/konsultasi/cara-menghilangkan-keloid-3

2 thoughts on “Kejadian setelah Operasi 3 in 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s