Nama Pena

Semakin sering menulis, semakin banyak membaca untuk menambah kosakata dan belajar secara langsung dari karya penulis-penulis hebat. Menambah pengetahuan dengan membahas istilah. Istilah yang akan dibahas kali ini adalah nama pena. Setelah bertanya dari berbagai sumber ini hasil rangkumannya. Mari dibaca….

Menurut Wikipedia, Nama pena adalah sebuah nama samaran yang diadopsi oleh seorang penulis. Sebuah nama pena dapat digunakan untuk berbagai tujuan, seperti: untuk membuat nama penulis lebih khas; untuk menyamarkan gender-nya; untuk memberi “jarak” antara seorang penulis dengan beberapa atau semua karyanya; untuk melindungi penulis dari bahaya yang ditimbulkan oleh tulisan-tulisannya; atau untuk sejumlah alasan yang berkaitan dengan pemasaran atau presentasi estetika dari karya yang terkait. Nama penulis yang sebenarnya bisa saja hanya diketahui oleh penerbit buku dan dijaga kerahasiaannya, atau mungkin akan menjadi pengetahuan publik.

Dunia penulis tidak sesederhana menyembunyikan nama asli demi privasi. Bagaimanapun, penulis yang menerbitkan karyanya juga terkait dengan dunia penerbitan. Sehingga, ada beberapa alasan, tidak ada hubungan langsung dengan penulis sebagai sosok personal. Lebih bicara tentang kepentingan banyak pihak.

Setidaknya ada dua alasan menggunakan nama pena, yaitu

Pertama, pertimbangan nama dan genre tulisan. Kadang, nama asli penulis tidak bisa mewakili genre tulisan yang ditulisnya. Untuk itu, diperlukan modifikasi seperlunya.

Kedua, menghindari ekspos yang berlebihan. Kadang, penulis dalam satu media menulis lebih dari satu tulisan. Jika tulisan-tulisan tersebut mencantumkan nama yang sama, terkesan media tersebut kekurangan penulis dan tentu citranya menjadi kurang baik.

Selain itu, Udo Yamin Majdi mengatakan bahwa alas an orang menggunakan nama pena adalah :

  1. Karena kurang percaya diri. Rasa kurang pede ini, bisa berkaitan langsung dengan nama aslinya, karyanya, maupun dengan spesialisasi ilmunya.
  2. Karena ingin menjaga keamanan diri. Tidak sedikit penulis yang harus meringkuk di balik jeruji besi, bahkan harus menyerahkan nyawanya di tiang gantungan gara-gara dari sebuah tulisan.
  3. Karena nama sama dengan penulis lain.
  4. Karena tidak marketable.
  5. Karena ingin melakukan personal branding.
  6. Karena alasan negatif dan tidak bertanggung-jawab.

Dunia kepenulisan atau perbukuaan itu ibarat samudra. Di tengah samudra itu ada beberapa benua, setidaknya ada dua benua besat, yaitu benua fiksi dan benua non-fiksi. Di benua fiksi ada pulau novel, pulau cerpen, pulau novelet, pulau cerbung, dan seterusnya. Sedangkan di benua fiksi, (1) ada pulau faktual yang terbagi menjadi beberapa daerah, ada daerah berita, ada daerah featuter, ada daerah laporan, dst; (2) ada pulau opini terbadi menjadi beberapa wilayah: ada wilayah opini, ada wilayah kolom, ada wilayah esai, ada wilayah biografi, ada wilayah autobiografi, ada wilayah memoar, dst; dan (3) pulau ilmiah, ada district ilmiah akademis (makalah, paper, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian) dan ada district ilmiah pupuler (artikel ilmiah populer, dst) Dan setiap daerah, wilayah, atau district ini, memiliki beberapa rumah: dari segi jenis kelamin, ada rumah perempuan dan ada rumah laki-laki; dari segi umur: ada rumah balita; rumah anak-anak, rumah remaja, ada rumah dewasa, ada manula, dst.

Tentu saja kita tidak cukup waktu untuk memasuki semua rumah tersebut. Begitu pula hal dalam dunia tulis menulis, tidak semua jenis, bidang, dan sasaran pembaca buku, bisa kita tulis, melainkan kita harus memilih salah satu atau beberapa saja. Misalnya, memilih menjadi penulis jenis non-fiksi bidang keislaman. Bidang keislaman ini masih banyak lagi cabangnya, ada tentang Al-Quran, Al-Hadis, Fiqh, Sirah, Filsafat, Dakwah, dan seterusnya. Tema Al-Quran pun masih banyak sekali ranting keilmuan yang bisa kita ambil sebagai spesialisasi kita, misalnya tafsir, asbabun nuzul, qira’ah, i’rab, tajwid, mufrodat, dst. Dari tafsir itu dibagi-bagi lagi, ada tafsir maudhu’i (tematis) dan ada tafsir tahlily (tafsir analitis). Selanjutnya, kita dihadapan dengan pilihan, siapa sasaran pembacanya, untuk remaja atau dewasa. Misalnya memposikan diri sebagai penulis tafsir maudhu’i untuk remaja.

Adapun cara menulis nama pena di bawah ini:
1. Buatlah nama pena yang bermakna positif dan mencerminkan idealisme Anda. Membuat nama pena, tidak jauh berbeda seperti kita memilih nama asli.

2. Sesuaikan nama pena dengan jenis tulisan dan target pembaca.

3. Usahakan nama pena singkat.

4. Enak didengar dan mudah diingat.

5. Nama pena hendaknya mudah diucapkan dan marketable.

6. Sebaiknya memakai satu nama pena saja dan jangan sering berubah.

Nama pena ini bukan segala-galanya agar buku kita dibaca oleh banyak orang. Ini hanya sebatas ikhtiar saja. Sedangkan buku kita best seller atau tidak, itu sangat tergantung kesungguhan kita melahirkan karya berkualitas dan keseriusan kita dalam berdo’a.

Saya sendiri memiliki nama asli Nurita Putranti, nickname yang sering saya gunakan di dunia cyber adalah eNPe yang merupakan singkatan atau inisial dari nama asli. Apakah itu yang akan saya jadikan nama pena? Jawabnya belum tentu. Karena belum tulisan yang diterbitkan dalam bentuk buku jadi nanti saja mengumumkan nama pena saya, hehehe…

Sumber :

http://id.wikipedia.org

https://groups.google.com/forum/#!msg/arsipque/ubWRy4NyDuQ/z3wPfFj5UOsJ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s