Seleksi Guru untuk SSN dan RSBI

Dunia pendidikan kita mengelompokkan sekolah-sekolah dalam empat kelompok yaitu Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), Sekolah Standar Nasional (SSN), dan Sekolah Reguler.

Pengelompokan itu tidak dibuat dengan perancangan yang matang, pemetaan konsep dasar pendidikan, pemetaan pola sosiokultural masyarakat, serta perencanaan jangka pendek, menengah, dan panjang yang jelas. Sederhana saja, pembagian itu hanya didasarkan pada besar-kecilnya uang. :mrgreen:

Dinas Pendidikan akan mengadakan seleksi guru untuk penempatan di SSN (Sekolah Standar Nasional) dan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Sekarang mari kita bahas bersama bagaimana SSN dan RSBI.

SSN merupakan sekolah yang telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang berarti mampu memberikan layanan pendidikan yang standar dan menghasilkan lulusan dengan kompentensi sesuai dengan standar nasional yang ditetapkan. Berikut ini komponen standar yang dimaksud:

Komponen Input:

aspek siswa, sarana prasarana dan pembiayaan serta aspek input harapan (visi, misi, tujuan dan sasaran), serta aspek tenaga kependidikan.

Indikator tenaga kependidikan bagi SSN:

(a) memiliki tenaga kependidikan yang cukup jumlahnya, (b) kualifikasi dan kompetensi yang memadai sesuai dengan tingkat pendidikan yang ditugaskan, (c) tidak mismatched.

Berkaitan dengan aspek kesiswaan, ada enam hal yang harus diperhatikan sekolah:

(a) penerimaan siswa baru, (b) penyiapan belajar peserta didik, (c) pembinaan dan pengembangan, (d) pembimbingan, (e) pemberian kesempatan, dan (f) evaluasi hasil beljar siswa.

Di samping itu ditekankan pula pada kondisi siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah yang meliputi rasio siswa per rombongan belajar dan rasio pendaftar terhadap siswa yang diterima.

Input yang berkaitan dengan sarana dan pembiayaan mencakup ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, ruang kepala sekolah, ruang keterampilan/kesenian/komputer, ruang administrasi, kamar kecil, lahan terbuka, fasilitas pendukung dan pembiayaan.

Komponen Proses meliputi aspek kurikulum dan bahan ajar, aspek proses belajar mengajar dan penilian, dan aspek manajemen dan kepemimpinan. Sedangkan komponen output mencakup aspek prespasi belajar siswa, aspek prestasi guru dan kepala sekolah dan aspek prestasi sekolah.

Kriteria Sekolah Standar Nasional

» Umum

  1. Memiliki rata-rata NUAN minimal 6,0.
  2. Jumlah rata-rata NUAN minimal 6,35.
  3. Ada kecenderungan rata-rata NUAN tetap atau diprioritaskan yang naik.
  4. Termasuk sekolah yang tergolong kategori baik di kota, yaitu memiliki tenaga guru dan sarana pendidikan yang cukup, serta memiliki prestasi yang baik.
  5. Sekolah memiliki potensi yang kuat untuk berkembang, dan
  6. Bukan sekolah yang didukung oleh yayasan yang memiliki pendanaan yang kuat, baik dari dalam maupun luar negeri.

» Khusus

  1. Sekolah memiliki kebijakan, tujuan dan sasaran mutu yang jelas.
  2. Sekolah memiliki sumber daya manusia yan kompeten dan berdedikasi tinggi.
  3. Sekolah memiliki fasilitas yang memadai.
  4. Sekolah memiliki kepedulian pada kualitas pembelajaran
  5. Sekolah menerapkan evaluasi secara berkelanjutan.
  6. Kegiatan ekstrakurikulernya menunj ukkan peningkatan.
  7. Sekolah memiliki manajemen yang bagus.
  8. Sekolah memiliki kepemimpinan yang handal.
  9. Sekolah memiliki program-program yang inovatif.
  10. Sekolah memiliki program yang jelas sesuai dengan kondisi objektif sekolah.
  11. Program sekolah dibuat dengan melibatkan seluruh warga sekolah.
  12. Sekolah memiliki administrasi keuangan yang transparan.
  13. Hubungan kerjasama antar warga sekolah berjalan harmonis.
  14. Kerja sama antara sekolah dengan masyarakat sekitar berjalan dengan baik.
  15. Ruang kelas, laboratorium, kantor dan KM/WC serta taman sekolah bersih dan terawat.
  16. Lingkungan sekolah bersih, tertib, rindang, dan aman.
  17. Guru dan tenaga kependidikan tampak antusias dalam mengajar dan bekerja.
  18. Hasil UAN siswa menunjukkan kecenderungan meningkat.
  19. Sekolah menerapkan reward system dan merit system secara baik
  20. Sekolah memil iki program peningkatan kinerja profesional guru dan tenaga kependidikan lainnya.

RSBI merupakan sekolah yang menawarkan pengajaran dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Semua mata pelajaran akan diajarkan dalam bahasa Inggris kecuali tentu saja mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kurikulumnya juga internasional, yang paling umum adalah mengadopsi Cambridge.

Dalam RSBI, istilah ‘internasional’, selain dimaknai dengan segala fasilitas sekolah berstandar internasional, juga diperhubungkan dengan bahasa Inggris. Kata ‘internasional’ yang dicaplok dalam istilah SRBI itu maknanya cukup ambigu. Ia bisa berarti ‘standar’, baik fasilitas, uang masuk, uang SPP, tenaga pengajar, bahasa pengantar, cara berpikir, atau mungkin semuanya. Harus ada pemisahan yang jelas dan tegas antara ‘standar-standar’ itu.

Bisa jadi ‘internasional’ hanya dimaknai sebagai simbolisme, yang tidak memiliki substansi apa-apa selain label kosong belaka. Akan jadi bencana jika hal yang lebih substansial justru ditenggelamkan oleh simbolitas-simbolitas itu. Misalnya bahasa Inggris.

Sebagai bahasa internasional, diharapkan siswa-siswi menguasainya agar bisa berbahasa Inggris dalam pergaulan internasional, menyerap iptek dari dunia luar, mempromosikan negeri sendiri, dan lainnya. Akan tetapi sedikit lebih substansial: berbahasa Inggris tentu bukan hanya sekadar berbahasa, making conversation, bercakap atau berbicara. Sebetulnya, yang harus ditekankan adalah berpikir globalnya, bukan bahasa Inggrisnya.

Maka harus dibedakan antara berbicara dengan berpikir. Jika ingin sekadar bisa berbahasa Inggris, tak perlu bayar jutaan rupiah di RSBI.

Indonesia sangat butuh orang yang mampu berpikir global-universal, namun bertindak dalam kearifan lokal. Berpikir besar, tetapi tak lupa asal-muasalnya. Itu sebetulnya sebenarnya esensi SBI yang diwakilkan pada kata ‘internasional’. Mungkin SBI bermaksud baik ingin agar muridnya berpikir global-universal. Akan tetapi gurunya dulu yang harus diajari cara berpikir global-universal sambil belajar bahasa Inggris.

Syarat seleksi untuk guru SSN dan RSBI antara lain : guru PNS, minimal S1, mampu berbahasa inggris secara lisan dan tertulis, mampu ICT, lulus tes tertulis, tes lisan, psikotes dan toefl, fotokopi ijasah terakhir, SK terbaru, mengisi formulis dan pas foto 3×4 terbaru.
Untuk Kota Pontianak, tes akan dilaksanakan tanggal 28 Juni 2010.

Sekolah dan siswa telah ada SSN dan RSBI tapi guru2nya baru mau diseleksi. Bukankah sebaiknya terlebih dahulu menciptakan SDM yang memadai untuk mendidik siswa, setelah itu baru membentuk sekolah dengan standar tertentu??

Bagaimana pendapat Anda?  🙂

Advertisements

30 thoughts on “Seleksi Guru untuk SSN dan RSBI

  1. betul sekali, bu ita. desain ssn maupun rsbi lebih cenderung utk menaikkan gengsi sekolah yang bersangkutan, tanpa memperhatikan berbagai persyaratan yang ada. saya tidak heran kalau pada akhirnya ada belasan sekolah berstatus RSBI yang akhirnya di-drop ke ssn. menyedihkan.

  2. kebetulan skul kami mempersiapkan diri menuju sekolah berstatus SSN, meski swasta.
    trims atas infonya… , tapi yg sdikit mengganjal adalah bukan skolah yayasan …dst
    lha skolah kami yayasan yg didukung oleh perusahaan private.., tp ga taulah… kita2 mah cuman guru ajah…

  3. RSBI tak kan berhasil klo tidak didukung guru2 yg mumpuni. saat ini RSBI justru menjadi lahan korupsi bagi para guru dan kepala sekolah. selain itu, RSBI cenderung menciptakan kastanisasi dalam pendidikan karena hanya yang berada saja yang dapat mengaksesnya. hal tersebut terjadi pada bekas sekolah saya. intinya, pembukaan RSBI hanyalah sekedar gengsi saja, tidak ada tujuan yg jelas untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

  4. setiap kebijakan seharusnya didukung dengan semua sumber daya yang ada termasuk kesiapan sekolah maupun internal didalamnya guru, siswa, dan masyarakat pada umumnya.
    Nice post tha

  5. Kategorinya sekolah reguler reltif murah dan bahkan gratis (SMP/MTs), sekolah SSN uang sekolahnya lebih besar dari sekolah reguler, RSBI dan SBI uang sekolahnya paling besar kemudian sama-sama menghasilkan lulusan yang kualitasnya tidak beda jauh…

  6. SSN, RSBI, SBI…hanyalah menimbulkan KASTANISASI PENDIDIKAN. Sangat bertentangan dengan tujuan pendidikan yg telah d tetapkan UU. Bahkan RSBI dan SBI yg sekarang ini dianggap telah ‘melenceng’ dari konsep semula, setdknya ini menurut yg bt konsepsendiri (Maaf nama ‘beliau’ lupa… Bu.. Aiih..gak valid komen saya ya…he he he..)

    Salam Pendidikan

  7. hehe… dari dulu, posisi menentukan prestasi. buat dulu barangnya baru dicari sapa yang mau jalankan ntu barang. kl nda ade yang berkompeten, dipaksain kompeten dengan kompromi. cam ntulah kite. persiapan nda ada yang matang. semua dadakan. lucunya, persiapan yang udah matang disesuaikan dengan input, fasilitas, visi dan misi malah ditolak mentah2 dengan alasan *hajat hidup orang banyak*

    klasifikasi sekolah ntu mestinya berdampak juga dengan UUD. kl ngomongin UUD, saya baru tau ternyata SPP salah satu perguruan tinggi di Indonesia mestinya gratis jaman saya kuliah dulu, *duh kena tipu dah saye, mesti bayar 1 juta/smstr* hihihi.

  8. kategori nasional n internasional itu apa, kurikulum, pakai bahasa pengantar bahasa inggris, toh cuma beberapa kelas yang menggunakan kurikulum dan bahasa internasional. Jadi bukan RSBI dong tapi RKBI (Rintisan Kelas Berstandar Internasional)

  9. Terus terang saya agak bingung tentang pengelompokan ini…
    Di kota kecilku, ada sekolah SMA..justru SMA ini yang paling baru, memenuhi standar RSBI….pertanyaannya, apakah hasil lulusan juga dinilai?

    Saya termasuk melihat sesuatu dengan kacamata beda, menyekolahkan anak tak hanya dari sisi ilmu tapi juga kemasyarakatan, jadi anak saya sekolah SDN Inpres, SMP dan SMA Negri..dan syukurlah diterima di PTN. Di satu sisi, orangtua tetap harus memantau anak belajar, menemani, mengajak komunikasi…karena tak bisa dilepaskan pada guru atau bimbingan belajar. Dengan kerjasama orangtua dan guru yang baik, maka anak akan tetap gembira saat belajar.

    • saya juga bingung, bu. Ntah dari mana sekolah bisa mendapatkan kategori2 tsb. Praktik tidak sesuai teori. ada sekolah yang lebih bermutu tapi masih berstatus SSN, tetapi sekolah yang biasa2 saja bisa masuk RSBI. aneh…
      kerjasama dan koordinasi semua stakeholder sangat diperlukan utk kemajuan pendidikan Indonesia

  10. ayo-ayo yang ngerasa jadi guru blogger blogger guru bisa memberi komentar yang actual dan membangun tentang SNI helm SSN dan RSBI yang banyak dikembangkan di daerah2 dengan biaya tinggi yang mencekik para orang tuanya 😦 😥
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  11. Bu saya mau tanya…kriteria apa yang menyebabkan sebuah sekolah dicabut status SSN nya? Terima kasih bu atas postingan artikel tentang SSN dan RSBI nya, sukses selalu buat ibu.

  12. Saya juga kurang setuju dengan RSBI. Kita terjajah dengan bahasa. Ketika kita mempelajari sesuatu harus terlebih dahulu memahami bahasa itu, kapan mudengnya. wong pakek bahasa sehari-hari aja bingung. apalagi…. Terus semua salah kaprah tentang RSBI, bukan berarti menggunakan bahsa inggris, tapi sistemnya yang internasional. Yang lebih ngeri lagi ternya sekolah berkelas internasional, biaya internasional tapi kulaitas lokal…..

  13. seharusnya sekolah dengan embel-embel internasional harus diikuti dengan sdm pendidiknya juga donk minimal S2 dengan bahasa pengantar materi internasional jg. jangan cuma jadi ajang cari duit dengan embel-embel sbi atow rsbi doank…coz sekarang ini sekolah negeri sebagian besar sudah tidak dapet tambahan buku aja udah di gratisin….eeeehhh sekarang ada istila lebel sekolan peke internasional2an segala..huhhhhh….udah bayarnya mahal. fasilitas kalah sama sekolah swasta…. kalo emang pake lebel SEKOLAH SD/SMP/SMA NEGERI yaa GRATISSSSSSSS….. anak2 cuma dateng duduk dan belajar didampingi sama guru yg professional donk….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s