Cerita UN 2010 (1)

UN (Ujian Nasional) hanya membodohi diri sendiri. Kenapa begitu? Ya, memang begitu kenyataan yang terjadi. demi memperoleh nilai tinggi melebihi batas yang ditetapkan pemerintah, oknum guru, siswa, orang tua, lembaga bimbingan belajar dengan giatnya menghalalkan segala cara.

Isu bocornya kunci jawaban UN sudah berredar beberapa hari sebelum pelaksanaan UN. Tidak hanya unci jawaban, tetapi fotokopi-an soal pun ikut dijual. bahkan >1 sekolah yang siswanya bekerjasama untuk mendapatkan paket bocoran soal tersebut. Harganya pun bervariasi, semakin dekat pelaksanaan UN, harga semakin naik.

Beginikah hasil akhir yang harus ditempuh siswa selama 3 tahun belajar?? Tingkat kejujuran dan kecurangan pelaksanaan UN sangat tipis. Apa gunanya mendapat nilai tinggi tetapi lulus dengan cara yang tidak baik.
Banyak kasus tahun sebelumnya yang kita temui bahwa siswa menjadi korban karena “proyek” oknum yang tidak bertanggung jawab. Soal tipe pilihan menjadi tidak efektif untuk menilai tingkat kecerdasan siswa.

Sudah sesuai dan pantaskah semua sekolah di Indonesia melaksanakan UN sebagai standar kelulusan? Sementara kondisi setiap sekolah tidaklah sama. Mulai dari fasilitas sekolah sampai kualitas guru yang mengajar. Dalam satu kota saja sudah berbeda-beda, apalagi seluruh Indonesia.

Bagaimana negeri ini bisa maju jika pendidikan para penerus bangsa tidak baik. Kualitas pendidikan tidak hanya dinilai dari hasil akhir tetapi proses pendidikan itu yang penting. Semoga kecurangan atau ketidakjujuran UN terjadi untuk terakhir kalinya. Tidak perlu diperpanjang di tahun berikutnya.

Semoga bermanfaat🙂

12 thoughts on “Cerita UN 2010 (1)

  1. Makanya Indonesia gk pintar2… semua mengejar target untuk lulus… apalagi di dunia kerja, bahkan ada yang sogok sana sini utk masuk sekolah kedinasan… Bagiamana dengan Mutu? nomor paling buntut… Maka contohilah sekolah2 swasta yang mengedepankan disiplin dan kualitas…
    Sebagai petugas yg bekerja di penjaminan mutu pendidikan, memang kualitas dan mutu pendidikan kita masih menengah ke bawah.,
    Nice info ta… monggo berkunjung

  2. Menyedihkan…

    Saya kepikiran kira-kira bagaimana caranya supaya kita bisa menjadi bagian dari solusi terhadap permasalahan ini. Hal ini terjadi dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini, dan mungkin juga tahun depan kalau tidak ada aksi yang serius dalam mengatasi hal ini.
    I just wonder…

    Salam kenal😀

  3. benar… apalagi kalau sudah masuk perguruan tinggi. Bekal selama SMA seperti tidak terpakai sama sekali, ilmunya baru, cara belajarnya baru, bahkan jarak antara pelajaran SMA dan Kuliah serasa begitu jauh. Saat yang di kejar hanya nilai, ya jangan salah kalau kuliah nanti yg di kejar juga hanya nilai. hehe, tapi apa jadinya tolak ukur yang pasti?

  4. Pingback: Cerita UN 2010 (2) « Nurita Putranti

  5. Yang saya heran…dulu kok nggak pernah ribut UN ya…
    Saya lupa, zaman saya UN nya nasional apa provinsi ya? Yang jelas yang nggak lulus banyak banget, meraung-raung..namun tetap harus belajar lagi satu tahun dengan giat agar lulus di tahun berikutnya.
    Dan..mestinya nggak lulus tak dimasalahkan..teman saya SMA pinter banget..pas mau ujian kecelakaan, dirawat di rumah sakit..ya terpaksa mengulang…tahun berikutnya ikut ujian lagi..lulus dan masuk kedokteran Unair.

    Dan rasanya tak ada orang yang melecehkan yang tak lulus….bahkan tak naikpun bukan menjadi hina…
    Sekarang rasanya kok semua pengin lulus..ntar mau masuk PT, kalau tak PTN yang PTS…nanti ribut lagi cari kerjaan. Dan rasanya jarang yang cita2 jadi pengusaha..dimanakah letak kesalahannya?

  6. sepertinya masalah ini akan terus eksis deh Ita. Masalahnya terletak pada akhlak manusia Indonesianya sendiri yaitu mau status tanpa kerja keras. Mau sesuatu dengan gratis/tanpa usaha nyata. Membeli ijjazah atau status dengan konsekuensi kalau sudah mendapat posisi itu keuntungannya lebih banyak dan bisa membayar hutang. Ini semua seperti lingkaran setan, yang terjadi di semua aspek kehidupan manusia Indonesia. Pendidikan juga terkena, padahal sebetulnya pendidikan itu sendiri bisa menjadi dasar untuk menghilangkan kebiasaan buruk itu. Bagaikan lingkaran setan.

    EM

  7. Benar bgt iyu,sehingga anak yg belajar merasa d’rugikan.sedangkan setelah lulus anak yg seperti itu tdk mendapatkan ilmu apa2.apalagi dgn adanya ujian ulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s