Anak merupakan rezeki yang Allah SWT titipkan kepada semua orang tua. Di kemudian hari orang tua akan mempertanggung jawabkan anak2 yang Allah titipkan padanya.

Orang tua tidak membeda-bedakan apakah anak perempuan atau anak laki-laki. Sering kita dengar, masih ada saja keluarga yang menginginkan anak perempuan/laki-laki tetapi kenyataan yang Allah berikan tidak sesuai dengan keinginan. Berikut ada cerita menarik di lingkungan sekitar saya. Insya Allah bisa kita ambil hikmah n pengalaman untuk bekal kemudian hari. Saya tidak akan menggunakan nama samaran seperti di sini jadi pakai istri, suami, anak saja *tetap merahasiakan identitas sebenarnya*.

Sebuah keluarga yang sangat menginginkan anak laki-laki, tetapi sudah empat kali persalinan, sang istri melahirkan anak perempuan. Suami pun kecewa lalu berunding dengan istrinya untuk mengambil anak angkat laki-laki dari panti asuhan. Niat awal suami sudah tidak baik, karena menganggap dengan adanya anak angkat itu bisa ”memancing” agar kelak istrinya bisa melahirkan anak laki-laki. Heran deh! Anak kok pake pancing segala, emangnya ikan???

Apa yang dicita-citakan keluarga itu terwujud. 4 tahun kemudian, istrinya melahirkan anak laki-laki. Keluarga sangat bahagia karena Allah telah mengabulkan doanya selama ini. Lalu bagaimana dengan anak laki-laki yang diasuhnya sejak bayi??? Ternyata orang tua *angkat* anak itu tidak ”memerlukan” dirinya. Identitas bahwa dia adalah anak yang diambil dari panti asuhan pun terbuka. Anak yang masih balita, tidak mengerti apa2 harus dijadikan tumbal *bisa gak sih diibaratkan seperti itu* karena ke-egoisan orang dewasa. Setelah anak laki-laki lahir dari rahim istrinya, suasana keluarga berubah. Semua perhatian n kasih sayang hanya terfokus pada sang bayi impian. Tapi Allah punya rencana lain. Belum genap 1 tahun bayi laki-laki tadi meninggal. Tidak jelas informasi yang didapat karena begitu byk versi dari keluarga, teman2 n tetangga sekitar rumah mereka. *daripada cerita yg blm jelas* Apapun penyebab meninggalnya bayi tadi adalah hal yang terbaik untuk keluarga itu.

Maaf, saya tidak bisa menceritakan secara detail bagaimana keluarga tersebut karena inti dari pesan yang akan saya sampaikan pada dasarnya hanya perbedaan perlakuan orang tua *terutama sang suami* terhadap anak laki-laki dan anak perempuan. Dan adanya kasus ”anak pancingan” yang kali ini ”berhasil” mereka lakukan.

Mereka terlalu mengagung-agungkan anak laki-laki. Dengan dalih untuk meneruskan keturunan *suatu tradisi* sehingga lupa mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Na’uzubillah…

Kenapa harus ada perbedaan gender seperti itu?? Toh sama saja, anak laki-laki ataupun anak perempuan. Sebagai orang tua tetap memiliki kewajiban yang sama untuk membesarkan, mengasuh, mendidik dsb.

Halah, *lagi2* bu guru sok2an..menikah aja belum, tapi cerita ttg anak n orang tua. Huehehehehe

Advertisements