STOP kekerasan di sekolah!

Apa yang akan saya ceritakan ini adalah cerita nyata, fakta yang terjadi di suatu sekolah negeri di Pontianak. Tapi saya tidak bisa menyebutkan identitas2 dalam cerita ini secara lengkap (permintaan nara sumber). Mohon pengertiannya..

Sejak pertengahan tahun lalu saya sering mendengar cerita dari siswa saya yang skrg telah melanjutkan pendidikan ke jenjang yg lebih tinggi bahwa di sekolah mereka ada guru (baca:oknum) yang hobi mencubit, memukul pakai penggaris panjang, ato menghukum lari lapangan, jln jongkok, dll.

Cerita itu hanya sekedar cerita dari siswa2 saya, tanpa melihat langsung kejadian n korban (hasil kreatifitas oknum). Tapi kmrn… saya sudah menemukan buktinya. Tanda biru n memar di lengan seorang siswa trus kaki yang keram bahkan ada siswa yang harus dibawa ke tukang urut n dokter karena kondisi fisiknya yang lemah. Sungguh menyedihkan. Saya pun mulai menyelidiki apa gerangan yang membuat oknum menjadi memberikan hukuman seperti itu. Ternyata kesalahan yang siswa lakukan adalah terlambat masuk pelajaran oknum, tidak bisa menjawab/mengerjakan tugas yang diberikan. Bahkan menurut cerita informan yang dapat dipercaya, bahwa dalam satu kelas hanya enam orang yang tidak dihukum. Masya Allah..

Hal lain yang membuat saya sedih adalah oknum guru tersebut saya kenal. Dulu waktu zaman saya sekolah, beliau merupakan guru fav dan dekat dengan siswa. Awalnya saya tidak percaya beliau bisa melakukan hal tersebut. Apa karena sekarang sudah menjadi guru senior n punya kedudukan?!? Selain beliau ada lagi oknum guru lain yang melakukan kekerasan di sekolah. Tapi bedanya guru ini masih terbilang junior. Nah loh? Ternyata gak ngaruh udah lama ato masih baru jadi guru. Semua itu kembali kepada individu masing2.

Saya sempat menyelidiki kenapa oknum (guru senior) masih bertugas. Selidik punya selidik bahwa oknum udah lama di sekolah tersebut n sulit utk menggeser kehadiran beliau. Apalagi pimpinan sekolah termasuk junior oknum. Astaghfirullah! Mau jadi apa masa depan pendidikan kita….

Kamis sore, saya sempat sharing dengan Mbak Angga ttg bagaimana menjadi guru/dosen yang baik. Mbak Angga sebagai calon dosen merasa khawatir terhadap kelakuan dosen yang gak bener, takut lingkungan dapat mempengaruhi ke arah yang negative. Sampe2 Mbak Angga memberikan contoh begini : “ waktu kita masih mhs, ikut demo anti korupsi *idealis mode on* tapi begitu 20-30 tahun kemudian setelah menjadi pejabat ada juga yang jadi koruptor.” Na’uzubillah!

Sebagai penutup, saya mohon kepada bapak/ibu/om/tante/teman2 sekalian utk saling menjaga, mengingatkan saya yang baru mau menjadi guru. Semoga kita tetap berada di jalan yang benar *istiqomah mode on*

Wallahu’alam…

20 thoughts on “STOP kekerasan di sekolah!

  1. Ita
    menurut aaya,

    guru tsb sudah kehabisan cara atau metode untuk membuat anak untuk “mendengar” dia.
    maklum anak jaman sekarang banyak sekali perbedannya. dari cara bersikap sampai cara menghargai orang tua termasuk guru.

    padahal
    ada banyak persamaan antara anak “dulu” dengan anak “sekarang”.
    Dua-dua nya membutuhkan pengertian kita dan tata cara disiplin yang bermartabat, bukan mengasari dan mempermalukan.

    thanks
    4 sharing ya Ita.
    sukses terus

    ya, mgk seperti itu. Guru kehabisan metode utk menyikapi kelakukan anak2. Tapi kan mengajar yang baik gak harus dengan kekerasan. Masih byk kan cara ato metode yang lebih baik🙂

  2. @agusampurno <> ini disebabkan karena masih membudayanya sifat feodal, senioritas di negeri ini. Feodalisme dan senioritas menyebabkan kita ogah menjadi pendengar. Padahal Angga yakin, kalau bisa memposisikan diri sebagai pendengar yang baik, Insya Alloh murid/ mahasiswa juga akan mendengarkan kita… Belajar dari Rosulullah saw. Dia dengar sampai selesai ketika ada orang yang memakinya. Lalu setelah selesai beliau hanya berkata, “Sudah selesai bicaranya?”. Itu saja. tidak ada sambungan lainnya. Beliau tempatkan diri sebagai pendengar yang baik… Dan tidak menyerang balik. Karena orang yang ingin didengar, tidak ingin diceramahi alias diserang balik. Bisa-bisa malah jadi anti…

    Mari bersama-sama, jika ingin orang lain mendengarkan kita, maka kitalah yang harus menjadi pendengar yang baik. Sejatinya guru/ dosen adalah pengganti orang tua. Bagaimana kita bisa “melindungi” mereka kalau kita tidak tau apa masalah mereka…

    Buat para orang tua, lindungilah anak-anak. ambil sikap kalau terjadi hal-hal seperti ini. Didik bilang, tidak ada yang tidak bisa kalau kita mau….

    Weks…mantapz komen Mba Angga. Dah siap jadi dosen neh😛

  3. wah, ternyta kekerasan di sekolah itu benar2 fakta, ya bu ita. ini ndak boleh dibairkan terus berlanjut. situasi semacam itu justru akan memudahkan jalan bagi siswa didik kita utk melakukan jalan kekerasan yang sama ketika menghadapi masalah. guru seharusnya bisa menjadi shi fu; guru sekaligus orang tua yang memperhatikan siswa didik seperti layaknya anak kandung.

    ya, emang seharusnya seperti itu n secara teori juga udah dijelaskan. Tapi gak semua guru mempraktekkan teori tersebut…

  4. iyah mbak, mari kita saling menjaga, di “dunia” kita memang banyaak godaannya, kalo ga da yang ngingetin bisa-bisa ikut terjerumus, serem ngebayanginnya. Tapi kalo kita saling menjaga dan mengingatkan dengan tali silaturahmi yang semakin erat, insyaAllah pasti kita bisa tetep istiqomah.
    Hanya kepada-Nya-lah kita meminta pertolongan🙂

    Amin..mari saling menjaga utk selalu istiqomah😀

  5. Hmmm…. kalau guru zaman sekarang kalau menyetrap muridnya masih kayak dulu ya?? Kaki diangkat satu…. tangan sambil megang kuping…. berdiri di depan kelas, dsb. Aturan model setrapan diatur disesuaikan dengan zaman dong seperti hukuman goyang Inul di depan kelas tanpa henti dsb. **halaah***:mrgreen:

    boleh di terapkan tuh, pak. Hukuman goyang Inul😛

  6. Kadang-kadang justru siswa yang bikin guru jadi gregetan.

    memang kelakukan murid2 beraneka ragam, namanya juga anak2. tapi itu tergantung bagaimana guru menyikapi murid2nya🙂

  7. gak tau juga sih, kenapa belakangan ini banyak terjadi kekerasan dalam pendidikan…

    tapi harus dilihat lagi dulu dari semua sudut, dulu aku juga pernah di hukum cubit, pukul dan jemur, tapi itu memang karena kesalahan yang aku buat, bukan karena tiba-tiba dan mungkin saat itu gurunya lagi kesel banget kali jadi ya.. gitu deh..

    tapi mungkin kalo kasusnya kayak diatas itu udah keterlaluan kali ya,…ya bagaimanapun juga menghukum dengan kekereasan itu gak baik..gak bisa ngebuat orang jadi sadar..tambah bandel malah iya…

    ya, kekerasan bukan menyelesaikan masalah tapi akan menambah masalah😦

  8. memang hal ini masih dilema,karena terkadang di sekolah masih diterapkan unsur ‘pendisiplinan’ dengan kekerasan. pada akhirnya si siswa bukan tambah takut, bisa jadi tambah bandel dan dendam sama oknum tersebut, atau di alam bawah sadarnya akan melanjutkan tradisi kekerasan kepada yuniornya.

    oh ya … apa khabar pontianak? apakah kena banjir juga seperti kamek di jakarta ni? he..he…semoga tidak ya.

    Perkenalkan saya partisimon Partogi, asal dari sintang. Ke pontianak pernah, tapi cuma beberapa hari,moga tahun ini bisa balek kampung.

    salam kenal dan numpang baca2 blognya ya

    Salam Jabat Erat

    Partisimon Partogi

    Itu yang bahaya, jadi ada unsur balas dendam. Na’udzubillah.
    Salam kenal, pak. Waah..orang sintang ya?
    Alhamdulillah Pontianak gak banjir.
    Silahkan baca2 pak🙂

  9. kek ne kalo sekarang saye lom ketemu sih yang gitru an cuman kalo jaman saye ( atau bise di bilang sekolahan saye) malah lebih extrem (siapa berani jangan disini) kira kira gitu deh kata katana (ane pernah bonyok juga) hihhhhhhhihihhihh, namun semua ndak ada dendam setelah itu, itu kalo saye mengingat masa lalu jaman jahilliah,*wak*.
    NB:segala sesuatu duatas bukan contoh atau patut di contoh namun HARUS DIHINDARI. betul kata ita semua balik ke individu masing masing.

    Emang gak baek kalo dendam. Lebih baik menghindari daripada mengobati😀

  10. Yang selalu menjadi pertanyaan Angga adalah…
    Mengapa guru/ dosen kayaknya selalu menjadi orang sok sibuk… Sampe2 ga ada waktu buat perhatiin perkembangan anak didiknya. Perkembangan bagi mereka hanyalah nilai 100. Aduh, jadi ingat Aa arif… dia yang selalu ngewanti-wanti Angga, pertama masuk kelas… senyum, ucapkan salam, tanyakan kabar mereka, tanyakan kemana yang tidak masuk, ajaklah anak-anak berdoa, doakan pula untuk kesembuhan dan kelancaran bagi anak-anak yang sakit dan sedang dililit masalah… sempatkan setidaknya 15 menit setiap hari untuk ngobrol dengan mahasiswa diluar kelas. Jangan lupa, doa Angga… doa, doa, doa… Aa Arif… you are my inspiration.. hehehe

    Gak semua guru seperti itu, mbak *pembelaan diri mode on*😀
    Weks..promosiin si Aa neh. Dalam PBM, emang diawal ada kegiatan pendahuluan, apersepsi gitu lah. jadi gak langsung ngajak murid2 utk belajar “buka halaman sekian, lalu jelaskan ini itu,bla..bla..”. Perhatian terhadap sisi kognitif emang penting tapi yg tak kalah penting adalah sisi psikomotorik n afektif🙂

  11. Yups, apersepsi emang selalu ada… Gini-gini di SPRG siswa di didik untuk jadi guru loh Ta…😀 Hanya saja, sekian per sekian guru yang apersepsinya “ngena dihati”. Rata-rata apersepsinya hambar banget……………………………………… Kebangetan hambarnya….

    Syukurlah kalo Mba Angga dah mengenal apersepsi😀 semua itu kembali ke guru masing2, Mba. Dalam rencana pembelajarannya, apakah kegiatan pendahuluan (apersepsi dll) hanya sekedar teori ato benar2 dilaksanakan😛

  12. Meski tidak separah yang diceritakan. Waktu SMP saya sering disuruh lari ma guru matematika, karena saya nilainya mesti kurang bagus (baca:jelek), atau pinggang saya dicubitin……….. (tapi gak sampai biru-biru dan memar)

    Uhmmm…ternyata dari dulu sudah ada hukuman seperti itu…😦

  13. Ngapain juga kekerasan di piara. klo PBB & KEMILITERAN itu bukan merupakan simbol kekerasan. akan tetapi untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dalam kedisiplinan kemiliteran diterapkan/dikenalkan sejak sekolah TK. karena kita juga harus menghormati dan menjujungtinggi rasa kebanggaan. para pejuang dulu saja dg secara mati2an demi memperjuangkan bangsanya juga utk bersama. kalo kekerasan memang tidak boleh. tapi klo dunia militer jika itu diterapkan sejak sekolah TK lebih baik, karena masih banyak generasi2 penerus yang cinta akan militer.

    =======
    hal itu hanya salah penerapan. kalo kekerasan, kedisiplinan militer digunakan seenaknya n berlebihan di dunia pendidikan maka akan berakibat seperti itu

  14. mohon bantuan informasi bahan – buku boleh di copy untuk tesis saya dengan isu kekerasan di sekolah (081267332900

  15. anak saya menjadi salah satu korban oknum guru miskin kreatifitas. badannya sempet biru akibat dicubit oknum guru. Yg lebih parah pernah ada ‘sepatu terbang’ di dalam kelas. cubitan, jeweran, sentilan dimulut, dijambak, memberikan kertas ulangan dengan cara dilempar adalah makanan sehari2 anak kelas 1 SDN 04 pagi Kelapa gading Timur. kata2 yg tidak pantas keluar darri mulut oknum guru tersebut juga menjadi ‘santapan rohani’ seperti : monyet, anjing, bego, bodoh, tolo, lelet daaaaaaaann masih banyak lagi. Miris dan prihatin melihat KBM di sekolah SDN . Memang harus dengan kekerasan ya mengajar itu ?? ya Allah…saya sebagai orangtua merasa amat sangat sedih mau dibawa kemana generasi bangsa ini kalo pembentukan karakter sdh tidak diperhatikan lagi…Lindungi anak2 ya Allah….!!! # untuk saat ini saya hanya bisa berdoa sambil berurai air mata…bingung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s