Alhamdulillah…selesai juga modul utk panduan mengajar..

Disela-sela jadwal yg padat tetap harus lembur mengerjain penyusunan buku yg akan digunakan siswa selama 1 tahun.

Memang benar kata dosen saya dulu, guru yang profesional yg menguasai 4 kompetensi, salah satunya harus menumbuhkan budaya menulis. Sehingga dapat menuangkan pemikiran, ide kreatif de el el dalam tulisan2 yg bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain. Saya masih belajar menjadi guru yg profesional 😀

Kenapa saya mau membuat modul?Bukankah byk buku cetak yg dijual di pasaran!? Di tahun pertama saya mengajar, saya menggunakan buku panduan salah satu percetakan terkenal di Indonesia. Tapi isi buku tersebut tidak sepenuhnya bisa digunakan siswa2 saya. Kebykn buku2 terkenal itu penulisnya dari daerah Jawa dan sekitarnya, tidak jarang mereka memberikan kasus ato contoh soal juga mengikuti daerah sekitarnya. Saya coba utk menggabungkan beberapa buku panduan, mengambil bbrp hal yg bisa saya gunakan kepada siswa2 di kelas. Setiap buku memiliki kelebihan dan kekurangan masing2.Tapi..ketidakpuasan itu tetap muncul (dasar manusia gak pernah puas!). Akhirnya di tahun kedua, saya berinisiatif utk menyusun modul sendiri. Saya sesuaikan dengan kondisi dan kemampuan siswa, mengembangkannya dan meng-apdet setiap awal tahun pelajaran. Berbagai sumber saya gunakan utk menyusun modul tersebut. Penggunaan modul yg saya buat hanya terbatas utk sekolah2 yang saya ajar saja..

Cukup cerita ttg modul mengajar yg telah saya susun.

Skrg kita bahas sedikit ttg guru yg asal mengajar dgn modal buku panduan seadanya. Metode yg mereka gunakan tidak lain adalah textbook! Celakanya ada guru yg mengajar tidak sesuai dgn latar belakang bidang keahliannya! Kita ambil contoh seorang sarjana hukum mengajar olahraga. Sekedar mengajak anak didiknya bermain ini itu, gerak ini itu, lari keliling lapangan sudah cukup utk jadi guru olahraga. Ato kasus lain, seorang sarjana bahasa inggris mengajar IPS. Dengan modal buku2 cetak yg ada di pasaran, baca semalam sebelum mengajar trus besok tinggal cuap2 dikit ke anak didik juga sudah bisa menjadi guru IPS.Na’udzubillah.

Tercatat lima belas persen guru mengajar tidak sesuai dengan keahlian yang dipunyainya atau bidangnya (Kompas, 9/12/05). Berapa banyak peserta didik yang mengenyam pendidikan dari guru-guru tersebut? Memprihatinkan. Mengenaskan. Bencana untuk dunia pendidikan..

Advertisements