Membaca Sarana Percepatan Diri

Oleh : Amri Knowledge Entrepreneur

“Jika membaca aneka buku biasanya akan mendapat pencerahan baru. Membaca juga sarana percepatan untuk menghadapi hidup, namun tidak semua ilmu yang kita inginkan harus kita jalani sendiri karena akan habis waktu. “


Hidup itu terbatas, kita mendiami satu tubuh, satu pikiran, dan melihat dunia dengan sepasang mata. Melalui membaca dunia kita menjadi lebih terbuka. Kita menjadi lebih terbuka tidak terbatas karena dapat menggunakan “mata” (pikiran) orang lain yang tersebar di mana-mana. kemahiran membaca seharusnya tidak dipandang remeh karena hal tersebut akan meningkatkan pemahaman dengan lebih berkesan. Oleh karena itu teknik membaca yang banar sangat penting dalam proses pembelajaran.

Terkait hal itu, reporter CyberMQ, Fiqi Fauzi berkesempatan mewawancarai Masrukul Amri atau lebih dikenal dengan Mas Amri yang tidak lain adalah pengisi Kolom MBA (Main Bersama Amri – red) yang ada di website kami. Knowledge Entrepreneur demikian beliau biasa disebut dengan segudang aktivitasnya antara lain sebagai konsultan manajemen Stratejik-Alternatif dan Director The Life University, Reengineering Mindsets – Unlocking Potential Power, serta mengasuh acara MQ Enlightenment di 102.7 MQ FM . Berikut petikan wawancara dengan pria yang mempunyai motto sama-sama belajar menjadi yang terbaik :

Esensi membaca sendiri seperti apa ?

Jika membaca aneka buku biasanya akan mendapat pencerahan baru. Kayak kita bikin kue, jika kue yang kita pelajari banyak kan nanti muncul kue baru. Itu yang paling penting esensinya. Selain itu, Membaca juga sarana percepatan untuk menghadapi hidup, namun tidak semua ilmu yang kita inginkan harus kita jalani sendiri karena akan habis waktu.

Saat membaca terkadang kita cepat lelah dan jenuh, bagaimana Mas Amri mengatasinya ?

Ya… harusnya di variasikan, jadi kita harus tahu mood nya jam berapa ? Kalau materi-materi yang berat sebaiknya ketika kita dalam kondisi yang mood banget, sebaliknya jika bacaan itu ringan bisa dilakukan dalam kondisi tidak mood pun tidak masalah. Jika ingin mudah memahami biasanya kalau induk bahasan misalnya pake stabilo atau pake tanda merah, kalau memasuki sub bab kita tandai dengan warna kuning atau warna lain biar lebih cepat. Jadi, pas membuka buku kita bisa bisa mengetahui apa yang sedang kita baca dengan tanda sebuah warna.

Bagaimana cara mendiagnosis buku saat membaca ?

Saya sendiri saat membaca harus rileks sebab kalau tidak rileks kita tidak bisa menyelami apa yang sedang kita baca. Jika saya mau membaca harus jalan-jalan sebentar dulu sekitar 1 sampai 2 menit, kita ambil nafas dulu biar saraf-saraf kita rileks atau bahkan saya mendengarkan musik dulu untuk membaca materi-materi khusus.

Membaca efektif sendiri membutuhkan waktu berapa lama ?

Saya membaca tidak membutuhkan waktu yang lama tapi sering, paling butuh waktu 1 jam. Untuk materi yang berat saya corat coret di summary. Biasanya summary itu untuk pencerahan diri kita. Jika ada kata-kata tertentu nanti akan muncul gagasan baru.

Bisa kasih tips cara membaca efektif ?

Yang jelas di tandai seperti kamus. Kamus itu ada A B C D, jadi saat membaca kita beri nomor setiap bab nya. Kadang kadang saya membeli buku tidak untuk di baca sekarang tapi sesuai dengan kebutuhan.

Selama satu hari berapa buku yang di baca ?

Kalau saya biasanya di tentukan dalam sehari ada beberapa buku plus majalah-majalah, nanti mood nya yang mana gitu aja saya mengaturnya. Seperti sekarang di depan saya ada beberapa buku bisnis dan majalah karena hampir sepekan ini saya ngajar, sehingga kurang cocok jika membaca buku yang tebal-tebal.

Kalau boleh tau berapa jumlah buku yang dimiliki Mas Amri ?

Malu ahh…….. saya punya buku sekitar 20.000. Setiap ada buku baru saya beli dulu jangan sampai kehabisan sama orang. Biasanya tiap bulannya saya menganggarkan alokasi dana 3 – 4 juta untuk membeli buku.

Saran bagi para profesional terkait hal di atas ?

Kepada para profesional hendaknya kita paksakan untuk menganggarkannya, kalau tidak maka tidak ada lompatan dalam hidup.

Kemampuan baca kita kalah oleh Vietnam, kenapa bisa begitu ?

Memang sama Vietnam kita sangat jauh, karena masyarakat kita banyak nonton televisi. Untuk mengejarnya hendaknya kita membeli buku-buku tentang teknik membaca dan bagaimana cara membaca yang menyenangkan. Mumpung belum terlambat hendaknya tanamkan anak-anak kita mengunjungi toko buku atau membaca buku yang ada di rumah meski sampai kucel. Orang-orang besar menjadikan buku sebagai asset berharga tidak seperti kebanyakan orang yang memandang asset dengan hal yang riil seperti uang maupun rumah mewah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s