Bersemangat Dalam Hidup

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar
“Semua ujian yang menimpa sudah diukur oleh Allah dan Ia tidak mungkin menyia-nyiakan kebaikan hamba-Nya yang beriman.”Saudaraku yang budiman, tiadalah menimpa suatu musibah melainkan dengan izin Allah. “Allah tiada membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya… (QS. Al-Baqarah: 286). Allah pun menjanjikan, “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyiraah: 5-6). Karena itu, kita jangan pernah takut dan panik menghadapi segawat apa pun kehidupan ini.

Semua ujian yang menimpa sudah diukur oleh Allah dan Ia tidak mungkin menyia-nyiakan kebaikan hamba-Nya yang beriman.

Rasulullah SAW mengatakan bahwa orang yang beriman itu tidak akan pernah rugi. Diberi nikmat dia bersyukur, syukur adalah kebaikan bagi dirinya. Diberi ujian dia bersabar, dan sabar adalah kebaikan bagi dirinya. Kita tidak akan hancur oleh siapa pun juga, satu-satunya yang akan menghancurkan kita adalah perilaku kita sendiri.

Oleh karena itu tetaplah bersemangat mengarungi hidup ini hingga Allah memanggil kita dengan Rahmat dan Kasih-Nya. Wallahu a’lam bish showab Perbanyak Pendapatan Bukan Pendapat
Oleh : Amri Knowledge Entrepreneur
“Jadi generasi pendapatan adalah generasi yang segera menentukan pilihan untuk menuju Jakarta dengan segala resiko yang dinikmatinya. ”

Hidup ini sangat diperlukan pendapatan agar banyak bermanfaat bagi banyak orang, dan bukan hanya memperbanyak pendapat sehingga tidak pernah sampai tujuan.

Ilustrasi sederhananya adalah, kalau kita dari Bandung mau pergi ke Jakarta, maka ada banyak jalur yang bisa kita tempuh; pertama melalui Puncak, kedua melalui Jonggol, ketiga melalui Sukabumi, keempat melalui tol Cipularang, kelima melalui Purwakarta, keenam melalui jalur Kereta, ketujuh melalui Udara dan masih banyak jalan lagi menuju Jakarta.

Tidak salah memang, kalau kita ingin pergi ke Jakarta, kemudian setiap diri kita mengajukan pendapat dengan segala alasan efektivitas untuk menuju ke Jakarta. Tetapi, kalau kita hanya banyak pendapat saja, kapan kita akan sampai ke Jakarta.

Beda dengan kalau kita berkonsep pendapatan, pada tipe ini energinya lebih ditekankan kepada sampai Jakarta bukan pada pendapat tentang tingkat efektifitas untuk mencapai Jakarta. Jadi generasi pendapatan adalah generasi yang segera menentukan pilihan untuk menuju Jakarta dengan segala resiko yang dinikmatinya.

Contoh lain misalnya, gempa yang menimpa Jogjakarta dan sekitarnya. Banyak diantara kita, hanya diskusi tentang cara paling efektif untuk menangani korban gempa. Tidak salah memang kita diskusi untuk mengajukan berbagai pendapat agar lebih efektif. Namun, terlalu banyak diskusi dan masukan dari berbagai pendapat, para korban keburu kelaparan, kedinginan, dan semakin terlunta-lunta. Padahal barang-barang bantuan sudah menumpuk di posko-posko tanpa ada kecepatan distribusi. Apalagi, kita hanya berpendapat saja dan lupa memberi bantuan kepada mereka.

Saya kagum sekali dengan penduduk yang kena musibah itu, ada beberapa orang tidak banyak pendapat, mereka dengan akrap mengumpulkan beberapa jenis ubi-ubian, kemudian dimasak bersama-sama dan dibagikan sama rata. Bahkan ada sebuah toko kelontong dari sisa-sisa reruntuhan rumahnya, dia kumpulkan kemudian dibagi-bagikan ke saudara-saudaranya sesama terkena musibah. Padahal dia sendiri juga sangat memerlukan barang itu.

Begitu juga banyak diantara kita yang akhir-akhir ini kekurangan keuangan, sebab gaji tidak naik, sedangkan kebutuhan hidup terus meningkat. Mereka sering diskusi, mengajukan pendapat paling efektif untuk menambah kebutuhan keluarganya. Namun, pendapat tinggal pendapat dan tidak pernah segera bergerak dari hasil pendapat itu. Dampaknya, pendapat semakin banyak sedangkan pendapatan semakin menurun.

Bukan berarti kita tidak boleh berpendapat, sebab berpendapat bisa mengasah ketajaman gagasan dalam menghadapi hidup ini. Namun, hati-hati kalau kita hanya memperbanyak pendapat dan lupa meningkatkan pendapatan.

Berani hadapi tantangan untuk meningkatkan pendapat yang diwujudkan menjadi pendapatan !!! Atau kita hanya banyak pendapat dan lupa pendapatan. Sehingga hidup dalam infrastruktur kemiskinan di berbagai peluang kehidupan. Akhirnya, hidup terkubur oleh pendapat …. pendapat …. pendapat dan hanya pendapat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s