<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Profesi Guru</title>
	<atom:link href="http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/</link>
	<description>eNPe berbagi pengetahuan n pengalaman</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Nov 2009 01:45:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: ami</title>
		<link>http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2736</link>
		<dc:creator>ami</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 03:13:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2736</guid>
		<description>ya terkadang guru sering jadi ocehan bu ya,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ya terkadang guru sering jadi ocehan bu ya,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rera</title>
		<link>http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2734</link>
		<dc:creator>rera</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 20:43:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2734</guid>
		<description>saya ingin menjadi guru, itu cita-cita saya sejak kecil.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya ingin menjadi guru, itu cita-cita saya sejak kecil.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Eterna Sisilia</title>
		<link>http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2726</link>
		<dc:creator>Eterna Sisilia</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 07:58:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2726</guid>
		<description>Ibuku guru, ayahku guru, kakakku guru, aku juga calon guru..
Dulu aku gak mau jadi guru. Ternyata setelah dipahami, guru sangat bergarga. Tanpa guru tidak akan ada pejabat bahkan presiden...................
So, don&#039;t give up GURU!!!
Untuk melahirkan anak2 bangsa yang membangun bangsa.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ibuku guru, ayahku guru, kakakku guru, aku juga calon guru..<br />
Dulu aku gak mau jadi guru. Ternyata setelah dipahami, guru sangat bergarga. Tanpa guru tidak akan ada pejabat bahkan presiden&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.<br />
So, don&#8217;t give up GURU!!!<br />
Untuk melahirkan anak2 bangsa yang membangun bangsa.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: alfon</title>
		<link>http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2679</link>
		<dc:creator>alfon</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 15:59:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2679</guid>
		<description>profesi saya juga guru dan instruktur saya sangat tersentuh dengan cerita anda di atas ... hebat</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>profesi saya juga guru dan instruktur saya sangat tersentuh dengan cerita anda di atas &#8230; hebat</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Stop Dreaming</title>
		<link>http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2671</link>
		<dc:creator>Stop Dreaming</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 02:55:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2671</guid>
		<description>I found your blog on google and read a few of your other posts. Will you consider to join our Facebook page? It&#039;s about stop dreaming and to start action.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>I found your blog on google and read a few of your other posts. Will you consider to join our Facebook page? It&#8217;s about stop dreaming and to start action.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Utami</title>
		<link>http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2664</link>
		<dc:creator>Utami</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 08:14:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2664</guid>
		<description>Hi Ibu Nurita..mo tanya aj pernahkan Ibu mendengar  nama Khruu Spmpron????? di seorang guru dari Thailand yang melatih  monyet-monyet di Surat Thani Thailand agar dapat memiliki ketrampilan untuk memanjat pohon kelapa.... Dia itu guru bagi para guru lho bu!!!! Ada bukunya JUdulny BELAJAR DARI MONYET</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hi Ibu Nurita..mo tanya aj pernahkan Ibu mendengar  nama Khruu Spmpron????? di seorang guru dari Thailand yang melatih  monyet-monyet di Surat Thani Thailand agar dapat memiliki ketrampilan untuk memanjat pohon kelapa&#8230;. Dia itu guru bagi para guru lho bu!!!! Ada bukunya JUdulny BELAJAR DARI MONYET</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: amrizal</title>
		<link>http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2663</link>
		<dc:creator>amrizal</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 17:27:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2663</guid>
		<description>seorang guru akan bangga kepada siswanya yang berhasil jadi pejabat tapi tak ada pejabat yang bangga akan guru bahkan profesi gurupun di acak2 bahkan untuk menjadi guru tak perlu pendidikan S1 lulusan SMA pun bisa jadi guru , bahkan sekarang sekolah bukanlah sebagai sarana pendidikan tapi proyek orang tertentu kwalitas no. 1000</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>seorang guru akan bangga kepada siswanya yang berhasil jadi pejabat tapi tak ada pejabat yang bangga akan guru bahkan profesi gurupun di acak2 bahkan untuk menjadi guru tak perlu pendidikan S1 lulusan SMA pun bisa jadi guru , bahkan sekarang sekolah bukanlah sebagai sarana pendidikan tapi proyek orang tertentu kwalitas no. 1000</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: panji</title>
		<link>http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2592</link>
		<dc:creator>panji</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 03:39:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2592</guid>
		<description>jangan bersedih............... jangan berduka .. 
bersyukur padanya profesi guru itu mulya...
pak guru yang ini apa namanya..... yang mana.......
docter,polisi,abri ,presiden sampai rt itu guru yang prodak.
sekarang  mereka sudah pandai!!!!

        &quot;docter,polisi,abri,presiden sampai rt. tidak akan bisa
         mendidik dan memprodak   seorang guru.
         tapi guru sanggup dan bisa mendidik memprodak   -
         mereka/mahluc-mahluc itu semua.    iyah kan &quot;
bang haji rhoma juga ngakuin!!!!      heeebaatkan guru     -
profesionalkan guru!!! mangkanya pemerintah teh kudu  -
eling!!!!!   sanes kitu!!!!  bapa/ibu guruuuu???  hehehehe.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jangan bersedih&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; jangan berduka ..<br />
bersyukur padanya profesi guru itu mulya&#8230;<br />
pak guru yang ini apa namanya&#8230;.. yang mana&#8230;&#8230;.<br />
docter,polisi,abri ,presiden sampai rt itu guru yang prodak.<br />
sekarang  mereka sudah pandai!!!!</p>
<p>        &#8220;docter,polisi,abri,presiden sampai rt. tidak akan bisa<br />
         mendidik dan memprodak   seorang guru.<br />
         tapi guru sanggup dan bisa mendidik memprodak   -<br />
         mereka/mahluc-mahluc itu semua.    iyah kan &#8221;<br />
bang haji rhoma juga ngakuin!!!!      heeebaatkan guru     -<br />
profesionalkan guru!!! mangkanya pemerintah teh kudu  -<br />
eling!!!!!   sanes kitu!!!!  bapa/ibu guruuuu???  hehehehe.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Singamurti</title>
		<link>http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2581</link>
		<dc:creator>Singamurti</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2009 13:48:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2581</guid>
		<description>Bu Nurita yth,
Artikel Anda “Profesi Guru” amat menyentuh hati saya, karena beberapa hal  yang Anda sebutkan adalah kenyataan yang saya alami secara pribadi dan nyata.
(1)	Di tahun 1980 saya menjadi dosen luar biasa di sebuah PT di Surabaya, hanya bermodalkan ijazah SMA. Saya tidak punya ijazah sarjana, karena ditahan alma mater saya, dan saya hanya bisa bertahan satu tahun saja, karena tahun berikutnya, ketika saya ditawarin untuk menjadi dosen tetap, maka saya harus dapat melampirkan fotocopy ijazah sarjana saya ke Kopertis sebagai salah satu persyaratan. Untuk itu saya dianjurkan oleh para dosen senior untuk “ngalah dulu, kemudian setelah dapat ijazah, baru tempeleng aja!”. Saya tidak bisa begitu, karena saya bukan orang plin-plan. Saya orang berprinsip. Saya tidak merasa bersalah, maka walau bagaimanapun, saya tidak akan mau tunduk untuk mengaku bersalah dan meminta maaf.
(2)	Di tahun 1981 saya ditawarin alma mater saya untuk mengajar di dua fakultas dengan beban penuh diberikan kepada saya. Berarti kira2 ijazah saya akan keluar, nih. Saya tanya, siapakah dosen yang akan tergeser, bila bebannya diberikan kepada saya? Setelah dijawab, saya tahu bahwa dosen tersebut memang hidup dari mengajar. Saya menolak, karena tidak mau membalik mangkuk nasi orang lain, maka saya kemudian masuk ke dunia bisnis.
(3)	Di tahun 1967, di tahun pertama saya kuliah di Fakultas Teknik Sipil, seorang dosen senior pengajar mata kuliah Aljabar Tinggi, mengatakan di hari pertama kuliah: “ Indonesia saat ini sudah ketinggalan 20 tahun di bidang matematika dibanding negara tetangga kita Malaysia. Di sana sudah tidak diajarkan, tapi di sini masih, karena memang tercantum di kurikulum. Jadi mari sekarang kita mulai dengan mendalami bersama ilmu Aljabar Tinggi ini.” Oala … semangat belajar saya langsung down ke titik nadir. Lha, ndak perlu, kok diajarkan. Lebih baik belajar yang lain, yang lebih berguna, lebih bermanfaat, lebih up-to-date. Gimana, sih, pendidikan di negara kita ini, ya? Ketinggalan jaman?
(4)	Sewaktu masih mahasiswa, saya pandai mengritik dosen atau guru, harusnya begini, harusnya begitu. Jadilah saya seorang dosen. Saya praktekkan apa yang saya maksudkan dengan dosen atau guru ideal. “Seorang mahasiswa/murid boleh saja menghabiskan waktu lama dalam mengambil sebuah keputusan, tetapi sesudah dia mengambil keputusan, maka murid/mahasiswa tersebut harus secepat mungkin diberitahu bahwa keputusannya itu benar atau salah, beserta penjelasannya” Nah, untuk sebuah “quiz” mingguan, jawaban masing2 mahasiswa bisa 3 halaman folio bergaris. Jumlah mahasiswanya 100 orang untuk tingkat satu. Dan untuk memeriksa satu quiz ini, saya butuh waktu 3 hari 3 malam. Mengapa? Kalau salah, saya akan beri notasi bahwa jawabannya itu salah, ditambah bahwa yang benar adalah “ini”, disertai penjelasannya mengapa demikian, agar mahasiswa ybs tidak sampai membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Lembar jawaban quiz dalam waktu 3 hari sudah saya bagikan kembali ke semua nahasiswa, kemudian dilanjutkan dengan forum terbuka, tanya jawab tentang quiz tersebut. Uih, uih, idealis benar, ya? Tapi saya jalankan, Bu! Semua puas, tapi saya babak belur! He he he …
(5)	Waktu itu honor yang saya terima sebagai dosen selama satu bulan adalah sekitar 13 ribu rupiah, pengeluaran saya untuk beli buku guna mengikuti perkembangan adalah sekitar 65 ribu rupiah, belum untuk bensin dllnya, maka betul Bu Ita, gimana bisa hidup, ya???
Wah, sudah panjang, Bu Ita! Sampai disini dulu, ya? Apa saya boleh nulis nulis komentar terus? Kok tidak ada tanggapan sama sekali. Lagi sibuk, ya? Jangan segan untuk meng-counter pandangan saya. Saya memang sudah usia di atas 60, tapi masih berjiwa juang muda, kok. 
Salam sukses selalu!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bu Nurita yth,<br />
Artikel Anda “Profesi Guru” amat menyentuh hati saya, karena beberapa hal  yang Anda sebutkan adalah kenyataan yang saya alami secara pribadi dan nyata.<br />
(1)	Di tahun 1980 saya menjadi dosen luar biasa di sebuah PT di Surabaya, hanya bermodalkan ijazah SMA. Saya tidak punya ijazah sarjana, karena ditahan alma mater saya, dan saya hanya bisa bertahan satu tahun saja, karena tahun berikutnya, ketika saya ditawarin untuk menjadi dosen tetap, maka saya harus dapat melampirkan fotocopy ijazah sarjana saya ke Kopertis sebagai salah satu persyaratan. Untuk itu saya dianjurkan oleh para dosen senior untuk “ngalah dulu, kemudian setelah dapat ijazah, baru tempeleng aja!”. Saya tidak bisa begitu, karena saya bukan orang plin-plan. Saya orang berprinsip. Saya tidak merasa bersalah, maka walau bagaimanapun, saya tidak akan mau tunduk untuk mengaku bersalah dan meminta maaf.<br />
(2)	Di tahun 1981 saya ditawarin alma mater saya untuk mengajar di dua fakultas dengan beban penuh diberikan kepada saya. Berarti kira2 ijazah saya akan keluar, nih. Saya tanya, siapakah dosen yang akan tergeser, bila bebannya diberikan kepada saya? Setelah dijawab, saya tahu bahwa dosen tersebut memang hidup dari mengajar. Saya menolak, karena tidak mau membalik mangkuk nasi orang lain, maka saya kemudian masuk ke dunia bisnis.<br />
(3)	Di tahun 1967, di tahun pertama saya kuliah di Fakultas Teknik Sipil, seorang dosen senior pengajar mata kuliah Aljabar Tinggi, mengatakan di hari pertama kuliah: “ Indonesia saat ini sudah ketinggalan 20 tahun di bidang matematika dibanding negara tetangga kita Malaysia. Di sana sudah tidak diajarkan, tapi di sini masih, karena memang tercantum di kurikulum. Jadi mari sekarang kita mulai dengan mendalami bersama ilmu Aljabar Tinggi ini.” Oala … semangat belajar saya langsung down ke titik nadir. Lha, ndak perlu, kok diajarkan. Lebih baik belajar yang lain, yang lebih berguna, lebih bermanfaat, lebih up-to-date. Gimana, sih, pendidikan di negara kita ini, ya? Ketinggalan jaman?<br />
(4)	Sewaktu masih mahasiswa, saya pandai mengritik dosen atau guru, harusnya begini, harusnya begitu. Jadilah saya seorang dosen. Saya praktekkan apa yang saya maksudkan dengan dosen atau guru ideal. “Seorang mahasiswa/murid boleh saja menghabiskan waktu lama dalam mengambil sebuah keputusan, tetapi sesudah dia mengambil keputusan, maka murid/mahasiswa tersebut harus secepat mungkin diberitahu bahwa keputusannya itu benar atau salah, beserta penjelasannya” Nah, untuk sebuah “quiz” mingguan, jawaban masing2 mahasiswa bisa 3 halaman folio bergaris. Jumlah mahasiswanya 100 orang untuk tingkat satu. Dan untuk memeriksa satu quiz ini, saya butuh waktu 3 hari 3 malam. Mengapa? Kalau salah, saya akan beri notasi bahwa jawabannya itu salah, ditambah bahwa yang benar adalah “ini”, disertai penjelasannya mengapa demikian, agar mahasiswa ybs tidak sampai membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Lembar jawaban quiz dalam waktu 3 hari sudah saya bagikan kembali ke semua nahasiswa, kemudian dilanjutkan dengan forum terbuka, tanya jawab tentang quiz tersebut. Uih, uih, idealis benar, ya? Tapi saya jalankan, Bu! Semua puas, tapi saya babak belur! He he he …<br />
(5)	Waktu itu honor yang saya terima sebagai dosen selama satu bulan adalah sekitar 13 ribu rupiah, pengeluaran saya untuk beli buku guna mengikuti perkembangan adalah sekitar 65 ribu rupiah, belum untuk bensin dllnya, maka betul Bu Ita, gimana bisa hidup, ya???<br />
Wah, sudah panjang, Bu Ita! Sampai disini dulu, ya? Apa saya boleh nulis nulis komentar terus? Kok tidak ada tanggapan sama sekali. Lagi sibuk, ya? Jangan segan untuk meng-counter pandangan saya. Saya memang sudah usia di atas 60, tapi masih berjiwa juang muda, kok.<br />
Salam sukses selalu!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: norbaiti</title>
		<link>http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2565</link>
		<dc:creator>norbaiti</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 14:21:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nuritaputranti.wordpress.com/2008/04/15/profesi-guru/#comment-2565</guid>
		<description>mengapa guru dikatakan sebagai profesi bukan pekerjaan??????????
hayooooooooooo jawab</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mengapa guru dikatakan sebagai profesi bukan pekerjaan??????????<br />
hayooooooooooo jawab</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
