RSS

Profesi Guru

15 Apr

Guru adalah profesi yang mempersiapkan sumber daya manusia untuk menyongsong pembangunan bangsa dalam mengisi kemerdekaan. Guru dengan segala kemampuannya dan daya upayanya mempersiapkan pembelajaran bagi peserta didiknya. Sehingga tidak salah jika kita menempatkan guru sebagai salah satu kunci pembangunan bangsa menjadi bangsa yang maju dimasa yang akan datang. Dapat dibayangkan jika guru tidak menempatkan fungsi sebagaimana mestinya, bangsa dan negara ini akan tertinggal dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian waktu tidak terbendung lagi perkembangannya.

Dokter adalah profesi yang memberikan pelayanan kesehatan kepada sumber daya manusia yang merupakan tenaga penggerak dalam menjalankan pembangunan. Tidak bisa dibayangkan akibatnya jika dokter tidak memberikan pelayanan sebagaimana mestinya.

Namun sungguh disayangkan, dalam faktanya, guru dan dokter dalam berbagai aspek sangat berbeda sekali bagaikan langit dan bumi *halaah sampe segitunya*. Guru yang dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa memang benar2 jasanya kurang dihargai.

Sementara dokter secara ekonomi sudah tidak bisa kita karakan lagi perbedaannya dengan guru. Kita sudah melihat dokter mendapat beberapa fasilitas, tunjangan, intensif dll yang menempatkan profesi dokter sebagai profesi yang layak utnuk dihargai dalam masyarakat.

Banyak guru di sekolah tanpa memiliki ijasah kependidikan. Jika hal itu terjadi didalam profesi dokter, setiap sarjana bisa melaksanakan praktek, berapa juta manusia yang akan menjadi korban malpraktek??. Sama halnya jika semua sarjana dapat menjadi guru *terlebih lagi yang tidak memiliki ijasah akta mengajar*, akan berapa banyak lagi generasi kita yang akan menjadi korban miseducation??

Kita sebagai insan pendidikan sangat mendukung program sertifikasi yang dilakukan pemerintah. Kebijakan itu diharapkan dapat menstratakan guru menjadi lebih baik. Amin.
Kita tidak akan melihat lagi tayangan televisi “Eagle Award” yang menayangkan seorang kepala sekolah merangkap sebagai pemulung. Ini adalah kenyataan akibat dari kurangnya penghargaan terhadap guru. Bagaimana tujuan pendidikan akan berhasil dicapai jika guru masih mempunyai tujuan yang beraneka ragam.

Nah sekarang bagaimana sikap guru terhadap profesinya sebagai guru agar proses fasilitasinya semakin bermutu? Untuk mewujudkan efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran, ada dua hal yang sebaiknya dilakukan seorang guru.

Pertama, penciptaan dan menataan suatu kondisi edukatif yang nyaman, aman, tenang dan tentram. Hal ini menyangkut relasi antara gur dan murid terutama dalam proses pembelajaran di kelas. Adanya suasana yang menyenangkan, akrab, penuh pengertian dan mau memahami sehingga murid merasakan bahwa dirinya telah dididik dengan penuh cinta dan tanggung jawab.

Kedua, guru sebaiknya memiliki, memahami, menghayati dan mengimplementasikan perilaku positif yang berakar pada keyakinan fundamental yang disertai komitmen total. Guru harus memiliki spirit sukses, roh keberhasilan dan motivasi murni untuk meraih dan menikmati keberhasilan.

Hal tersebut bisa tercapai jika guru menghayati profesi keguruannya. Berikut catatan singkatnya.

Ketika guru sungguh dihayati sebagai rahmat, maka seorang guru bekerja tulus penuh syukur. Bekerja senantiasa berbuat baik dan menunjukkan kemurahan hati bertekad menjadi guru yang lebih baik lagi.

Sebagai penerima amanah, guru terikat secara moral untuk mendidik muridnya hingga mencapai kedewasaan biologis-psikologis-spiritual sehingga guru bekerja benar dengan penuh tanggung jawab.

Panggilan hidup sebagai guru dipenuhi untuk menjawab suara Sang Pemanggil. Seorang (guru) yang secara natural menghayati panggilan jiwanya akan sukses dalam melaksanakan tugas panggilannya.

Aktualisasi diri akan terlaksana melalui pekerjaan, karena bekerja (sebagai guru) adalah pengerahan energi biologis, psikologis, spiritual yang selain membentuk karakter dan kompetensi kita membuat sehat lahir batin ssehingga dapat berkembang secara maksimal.

Menghayati guru sebagai ibadah membuat guru bekerja serius penuh kecintaan. Karena hakikat ibadah adalah persembahan diri, penyerahan diri yang dilandasi kesadaran mendalam dan serius bahwa kita berutang cinta kepada Dia yang kita puja. Sehingga kita patut mengabdi dengan sepenuh cinta pula.

Penghayatan bahwa guru adalah seni akan mendatangkan suka cita dan kegembiraan hati dalam bekerja memicu gagasan cerdas seorang guru untuk bekerja kreatif.

Menghayati guru sebagai kehormatan akan membuat guru bekerja sebaik2nya, mengedepankan mutu setinggi2nya dan menampilkan prestasi sebagus2nya.

Melayani adalah pekerjaan yang mulia. Kerja yang berorientasikan pada hal2 yang mulia membuat hidup kita menjadi lebih bermakna. Jadi sebagai guru, bekerjalah denga penuh jiwa melayani penuh kerendahan hati.

Kesimpulan dari tulisan campur aduk di atas adalah perbaiki kualitas pendidikan dengan meningkatkan kualitas guru.

Wallahu’alam.

About these ads
 
47 Comments

Posted by on April 15, 2008 in belajar, eNPe

 

Tags: , ,

47 responses to “Profesi Guru

  1. Freddy Hernawan

    April 15, 2008 at 3:39 pm

    Pertamax!! komentar dulu ah, baca belakangan :)

     
  2. Freddy Hernawan

    April 15, 2008 at 3:54 pm

    dah selesai baca nih. wah, tulisan nya membuat upyaa semangat pada diri sendiri yah tha :) hihi, keep the spirit yahbu guru. semoga pendidikan di Indonesia semakin maju dgn adanya org org seperti bu guru ita ini :)

     
  3. puang

    April 15, 2008 at 6:13 pm

    salam kenal dari bandung

    guru apa yang paling kaya melebih kekayaan para dokter, jawabannya guru sukarno putera

    artikel terbaruku………….
    Wahai perempuan
    berhentilah berpetualang antara

    http://puang07.fotopages.com

     
  4. rivafauziah

    April 15, 2008 at 7:32 pm

    GuRu PaHLaWan TaNpa TaNdA JaSa”
    ===============================
    Iya.. Banar2 Jasa Guru Kurang di hargai.Padahal Para Pajabat dan Petinggi Saat ini pintar oleh Jasa Guru..

    Guru Harus Ngajarin anak2 Berhitung! Setelah Dewasa dan punya Jabatan Dipakai Buat NgiTuNg Hasil Korupsi :-p

     
  5. mriza

    April 15, 2008 at 8:54 pm

    hm….
    ya .. ya.. guru ya..!

    Guru itu.. ibarat gajah..
    Semua orang bisa menungganginya…
    tapi pernahkan gajah menunggangi orang (manusia)..

    Haha.. sebuah pemaksaan istilah..

     
  6. nh18

    April 16, 2008 at 8:31 am

    Ibu Ita …
    Terima kasih mengangkat tema ini …
    HIDUP BAPAK – IBU GURU …

    nh18
    (anaknya pak guru dan ibu guru)
    (yang juga jadi guru … dengan murid yang beda)

     
  7. Angga

    April 16, 2008 at 11:17 am

    Ndak ngeh :-D

     
  8. Yari NK

    April 16, 2008 at 1:14 pm

    Huehehe…. ya bukan begitu mbak, mungkin karena dokter itu urusannya nyawa jadi ya wajarlah kalau pengawasan terhadap praktek dokter itu sangat ketat. Kalau misedukasi mungkin masih bisa diperbaiki, kalau hasil dari malpraktek wah seringkali susah untuk diperbaiki kembali.

    Kalau misalnya anak SD atau SMP ya tentu nggak apa2 misalnya diajarin sama yang lulusan D1. Tapi kalau operasi patah tulang, ada nggak yang mau dioperasi sama dokter lulusan D1 kedokteran? :mrgreen:

     
  9. ridu

    April 17, 2008 at 4:14 pm

    wah mbak-ku yang satu ini menceritakan profesinya yang mulia yah.. hehehe..

    kalo di jepang kata guru dan dokter itu sama-sama dihargai, yaitu senshei, ya karena kedua profesi itu sangat berjasa untuk kehidupan kita..

    salam yah buat murid2nya.. :razz:

     
  10. azaxs

    April 18, 2008 at 4:51 pm

    postingan menarik mbak :)

     
  11. eNPe

    April 21, 2008 at 2:27 pm

    # Freddy
    kyknye seneng banget bisa komen pertama ;))
    amin…thx, fred :D

    # puang
    salam kenal juga dari Pontianak :)
    udah berkunjung ke artikel tersebut

    # rivafauziah
    padahal gal ada mata pelajaran korupsi :D

    # mriza
    emang maksa banget :P

    # nh18
    Hidup Bapak-Ibu guru dan anak2 guru :D

    # Angga
    no komen :P

    # Yari NK
    huehehehe..tergantung dari sudut pandang mana kita menganalisa perbedaan guru dan dokter :)

    # ridu
    kapan Indonesia bisa kyk Jepang yg menghargai setiap profesi yg sangat berjasa utk kehidupan ???
    salam balik dari murid2, mbak :D

    # azaxs
    terima kasih :)

     
  12. wiwi

    April 23, 2008 at 1:19 pm

    Salam kenal bu…Ya karena kurang penghargaan itulah, aku larang suamiku untuk menjadi dosen tetap!!! Kalo dosen luar biasa alias cuman sekali2 ngajarnya tak apalah… Hare gene musti berhitung juga, kalo ada pekerjaan lain yang halal, disenangi dan menghasilkan secara materi, why not??? Anak istri kan jadi lebih terurus, logikanya begitu, insya Allah.

    Huehehe..kita hidup juga harus realistis kan bu, gak mesti selalu idealis. tergantung kondisi :D

     
  13. anang (Guru yang Pengusaha)

    April 27, 2008 at 6:01 am

    Guru adalah profesi yang ” akhirat oriented”. kalo mau kaya guru juga harus punya usaha sampingan. Kalo bisa hasilnya yang lebih gede dari haji mengajar. Biar bisa buat beli buku dan ikut training jadi muridnya bisa ikut merasakan hasilnya. Jangan pernah mengemis pada pemerintah. Kasihan tuh pemerintah, siang malem mikir duit korupsi biar gak ketangkep ma KPK.

     
  14. suyatno

    April 28, 2008 at 7:04 am

    Aduh kasihan profesi guru itu ya…
    lihat juga http//www.garduguru.blogspot.com

     
  15. eNPe

    May 8, 2008 at 11:04 pm

    @ anang (Guru yang Pengusaha)
    huahahhaha.. boleh juga saran dari pak anang :D

    @ suyatno
    ok, saya segera kesana :)

     
  16. Ikkyu_san

    May 10, 2008 at 4:10 pm

    saya juga guru…. asyikkk….
    tapi saya selalu bilang biarpun saya guru, saya harus terus belajar dari murid-murid saya. Menjadi guru bukan berarti stop belajar. Dunia berubah, waktu berjalan….guru juga harus berubah dan mengubah….

    Yup, betul bu. Sebagai guru harus selalu belajar, belajar dan belajar. Gak peduli belajar dari sapa pun, kadang usia lebih muda dari kita kalo emang kita bisa belajar darinya, kenapa tidak? :D

     
  17. Ierfan

    May 21, 2008 at 12:40 pm

    Lha waktu aku search di google tentang guru, aku terkejut kok ada nama loe di situ sekali buka eh betul emang punya loe…
    Maju terus…

    Huehehehe..kan skrg dah jadi bu guru :P
    Thx

     
  18. chandra_marta

    June 9, 2008 at 12:02 pm

    salam kenal untuk mbak. thans ya telah memberikan sajian yang menarik !!????
    =======
    salam kenal juga :) sama2, chan :D

     
  19. aditya

    October 30, 2008 at 8:12 pm

    ass
    slam sejahtera
    saya sebagai calon guru dari INSTITUT keguruan dan ilmu poendidikan atau IKIP pgri semarang

    sangat setuju memang kesehjahteraan guru di indonesia masih kurang di perhatikan sudah jelas berbada guru dan dokter……

    tapi menurut pendapat dosen saya TRIMO, S.Pd, M.Pd
    sudah saatnya negara memperhatikan kesejahteraan guru…..
    karen apa????
    kualitas suatu bangsa bisa di lihat dari kualitas guru di negara tersebut.

    berbanggalah para guruku
    pahlawan tanpa tanda jasa,,,,,
    sudah saatnya hargamu di naikkan dengan programm sertifikasi………
    maka gajimu di naikkan 100%
    jadilah tauladan n pengeyom yang arif//////
    kesejahteraanmu sudah mulai di fikirkan negara
    thanks

     
  20. oki

    December 1, 2008 at 4:31 pm

    guru adalah orang tua kita yang di sekolah

     
  21. Pak Im

    December 10, 2008 at 7:24 pm

    Guru jaman Oemar Bakri berbeda dengan guru jaman sekarang. Guru jaman dulu pake sepeda kumbang, guru jaman sekarang pake gerobak jepang. Jadi jelas beda….. Oemar Bakri adalah pahlawan tanpa tanda jasa, guru sekarang harus diharagai jasanya…. he..3x
    Tul Enggak Bu…?

     
  22. fahrikawali

    December 15, 2008 at 10:51 am

    “latakun mudarisan qabla antakuna aban.”okkk

     
  23. suryana77

    December 18, 2008 at 3:33 am

    setuju banget, tuntutan sebagai guru profesional memang sedang didambakan masyarakat Indonesia

     
  24. Guru

    January 24, 2009 at 12:51 pm

    Gimana cara menjadi guru yang baik ya…

     
  25. remi

    March 25, 2009 at 12:10 am

    yang bener mana ya….

    guru -> riset -> mahir -> riset -> expert

    atau

    guru -> mentok -> mentok -> pensiun

     
  26. budi

    March 27, 2009 at 4:34 pm

    saya juga bikin postingan “profesi guru” tapi gak sambung dengan judulnya. makasih telah singgah di blog saya

     
  27. norbaiti

    March 28, 2009 at 9:21 pm

    mengapa guru dikatakan sebagai profesi bukan pekerjaan??????????
    hayooooooooooo jawab

     
  28. Singamurti

    April 5, 2009 at 8:48 pm

    Bu Nurita yth,
    Artikel Anda “Profesi Guru” amat menyentuh hati saya, karena beberapa hal yang Anda sebutkan adalah kenyataan yang saya alami secara pribadi dan nyata.
    (1) Di tahun 1980 saya menjadi dosen luar biasa di sebuah PT di Surabaya, hanya bermodalkan ijazah SMA. Saya tidak punya ijazah sarjana, karena ditahan alma mater saya, dan saya hanya bisa bertahan satu tahun saja, karena tahun berikutnya, ketika saya ditawarin untuk menjadi dosen tetap, maka saya harus dapat melampirkan fotocopy ijazah sarjana saya ke Kopertis sebagai salah satu persyaratan. Untuk itu saya dianjurkan oleh para dosen senior untuk “ngalah dulu, kemudian setelah dapat ijazah, baru tempeleng aja!”. Saya tidak bisa begitu, karena saya bukan orang plin-plan. Saya orang berprinsip. Saya tidak merasa bersalah, maka walau bagaimanapun, saya tidak akan mau tunduk untuk mengaku bersalah dan meminta maaf.
    (2) Di tahun 1981 saya ditawarin alma mater saya untuk mengajar di dua fakultas dengan beban penuh diberikan kepada saya. Berarti kira2 ijazah saya akan keluar, nih. Saya tanya, siapakah dosen yang akan tergeser, bila bebannya diberikan kepada saya? Setelah dijawab, saya tahu bahwa dosen tersebut memang hidup dari mengajar. Saya menolak, karena tidak mau membalik mangkuk nasi orang lain, maka saya kemudian masuk ke dunia bisnis.
    (3) Di tahun 1967, di tahun pertama saya kuliah di Fakultas Teknik Sipil, seorang dosen senior pengajar mata kuliah Aljabar Tinggi, mengatakan di hari pertama kuliah: “ Indonesia saat ini sudah ketinggalan 20 tahun di bidang matematika dibanding negara tetangga kita Malaysia. Di sana sudah tidak diajarkan, tapi di sini masih, karena memang tercantum di kurikulum. Jadi mari sekarang kita mulai dengan mendalami bersama ilmu Aljabar Tinggi ini.” Oala … semangat belajar saya langsung down ke titik nadir. Lha, ndak perlu, kok diajarkan. Lebih baik belajar yang lain, yang lebih berguna, lebih bermanfaat, lebih up-to-date. Gimana, sih, pendidikan di negara kita ini, ya? Ketinggalan jaman?
    (4) Sewaktu masih mahasiswa, saya pandai mengritik dosen atau guru, harusnya begini, harusnya begitu. Jadilah saya seorang dosen. Saya praktekkan apa yang saya maksudkan dengan dosen atau guru ideal. “Seorang mahasiswa/murid boleh saja menghabiskan waktu lama dalam mengambil sebuah keputusan, tetapi sesudah dia mengambil keputusan, maka murid/mahasiswa tersebut harus secepat mungkin diberitahu bahwa keputusannya itu benar atau salah, beserta penjelasannya” Nah, untuk sebuah “quiz” mingguan, jawaban masing2 mahasiswa bisa 3 halaman folio bergaris. Jumlah mahasiswanya 100 orang untuk tingkat satu. Dan untuk memeriksa satu quiz ini, saya butuh waktu 3 hari 3 malam. Mengapa? Kalau salah, saya akan beri notasi bahwa jawabannya itu salah, ditambah bahwa yang benar adalah “ini”, disertai penjelasannya mengapa demikian, agar mahasiswa ybs tidak sampai membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Lembar jawaban quiz dalam waktu 3 hari sudah saya bagikan kembali ke semua nahasiswa, kemudian dilanjutkan dengan forum terbuka, tanya jawab tentang quiz tersebut. Uih, uih, idealis benar, ya? Tapi saya jalankan, Bu! Semua puas, tapi saya babak belur! He he he …
    (5) Waktu itu honor yang saya terima sebagai dosen selama satu bulan adalah sekitar 13 ribu rupiah, pengeluaran saya untuk beli buku guna mengikuti perkembangan adalah sekitar 65 ribu rupiah, belum untuk bensin dllnya, maka betul Bu Ita, gimana bisa hidup, ya???
    Wah, sudah panjang, Bu Ita! Sampai disini dulu, ya? Apa saya boleh nulis nulis komentar terus? Kok tidak ada tanggapan sama sekali. Lagi sibuk, ya? Jangan segan untuk meng-counter pandangan saya. Saya memang sudah usia di atas 60, tapi masih berjiwa juang muda, kok.
    Salam sukses selalu!

     
    • icha

      July 11, 2011 at 10:22 am

      wah…. bapak bnr2 kereen ni pak, idealis bgt jrng org sprti bpk dr dulu smpai skrng msh bisa dihitung walaupun dgn tasbeh hehe, slm kenal pak singamurti

       
  29. panji

    April 15, 2009 at 10:39 am

    jangan bersedih…………… jangan berduka ..
    bersyukur padanya profesi guru itu mulya…
    pak guru yang ini apa namanya….. yang mana…….
    docter,polisi,abri ,presiden sampai rt itu guru yang prodak.
    sekarang mereka sudah pandai!!!!

    “docter,polisi,abri,presiden sampai rt. tidak akan bisa
    mendidik dan memprodak seorang guru.
    tapi guru sanggup dan bisa mendidik memprodak -
    mereka/mahluc-mahluc itu semua. iyah kan ”
    bang haji rhoma juga ngakuin!!!! heeebaatkan guru -
    profesionalkan guru!!! mangkanya pemerintah teh kudu -
    eling!!!!! sanes kitu!!!! bapa/ibu guruuuu??? hehehehe.

     
  30. amrizal

    June 14, 2009 at 12:27 am

    seorang guru akan bangga kepada siswanya yang berhasil jadi pejabat tapi tak ada pejabat yang bangga akan guru bahkan profesi gurupun di acak2 bahkan untuk menjadi guru tak perlu pendidikan S1 lulusan SMA pun bisa jadi guru , bahkan sekarang sekolah bukanlah sebagai sarana pendidikan tapi proyek orang tertentu kwalitas no. 1000

     
  31. Utami

    June 22, 2009 at 3:14 pm

    Hi Ibu Nurita..mo tanya aj pernahkan Ibu mendengar nama Khruu Spmpron????? di seorang guru dari Thailand yang melatih monyet-monyet di Surat Thani Thailand agar dapat memiliki ketrampilan untuk memanjat pohon kelapa…. Dia itu guru bagi para guru lho bu!!!! Ada bukunya JUdulny BELAJAR DARI MONYET

     
  32. Stop Dreaming

    July 1, 2009 at 9:55 am

    I found your blog on google and read a few of your other posts. Will you consider to join our Facebook page? It’s about stop dreaming and to start action.

     
  33. alfon

    July 3, 2009 at 10:59 pm

    profesi saya juga guru dan instruktur saya sangat tersentuh dengan cerita anda di atas … hebat

     
  34. Eterna Sisilia

    October 14, 2009 at 2:58 pm

    Ibuku guru, ayahku guru, kakakku guru, aku juga calon guru..
    Dulu aku gak mau jadi guru. Ternyata setelah dipahami, guru sangat bergarga. Tanpa guru tidak akan ada pejabat bahkan presiden……………….
    So, don’t give up GURU!!!
    Untuk melahirkan anak2 bangsa yang membangun bangsa.

     
  35. rera

    October 26, 2009 at 3:43 am

    saya ingin menjadi guru, itu cita-cita saya sejak kecil.

     
  36. ami

    October 30, 2009 at 10:13 am

    ya terkadang guru sering jadi ocehan bu ya,

     
  37. copii

    July 11, 2010 at 2:32 am

    guru….

     
  38. Tri Maryono

    July 22, 2010 at 2:09 am

    … Saya juga calon guru, sekarang sedang mngerjakan skripsi.
    Tulisan Ibu sangat bermanfaat bagi saya, terimakasih

    Salam,

     
  39. riah

    October 22, 2010 at 1:04 pm

    ia kenapa ya kadang2 guru tidak pernah dihargai…. padahal kita udh bekerja dengan maksimal untuk menjadikan generasi penerus cerdas, berintelektual … tapi guru selalu dipandang sebelah mata…

     
  40. ayah uwah

    December 9, 2010 at 1:29 am

    ass.
    artikel yang menarik tentunya: ada beberapa persoalan yang membuat kita-kita sebagai guru kurang dihargai (lebih pas tidak memiliki bargaining) ditengah profesi yang lainnya,
    1. eksistensi guru di negara ini yang idealnya mendapat kehormatan, tapi seca rarealitas sebaliknya. Seringkali permsalahan guru yang muncul di permukaan adalah permasalahan kesejahteraan (gaji, tunjangan dll), sehingga muncul opini liar yang menganggap guru kurang sejahtera dibanding dengan profesi lainnya.Nah dengan berkembangnya opini ini masyarakat kita selalu membandingkan dua sisi yang berbeda dengan kacamata pragmatisme, tentunya pandangan sempit tersebut membuat profesi guru lebih dibawah dibanding profesi yang lainnya.
    2. Guru tidak memilki bargaining politik terhadap kebijakan pemerintah, misalnya ketika guru secara profesi terhina tidak ada tanggapan serius dari pemerintah (padahal UU Guru dan dosen psl 41), walaupun kewajiban pemerintah melindungi guru dan profesinya.
    3. Tidak berfungsinya organisasi guru secara baik. idealnya profesi guru hadir memberikan perubahan mindset terhadap komunitas guru, bukan malah memborgol guru dengan kode etik yang dipaksakan. jika dibandingkan dengan buruh atau wartawan, organisasi guru lebih mandeg, ini dilihat dari berbagai kasus yang mencederai guru, dibandingakan dengan buruh mereka lebih atraktif dan responship terhadap issu-issu yang mencederai profesi mereka ( misalnya karena PHK buruh mampu menunjukkan people of power mereka)
    4. saat ini guru bersikap apatis dengan keadaan dan cendreung statis terhadap perubahan, guru disibukkan dengan issu -isssu konvensional dan serimonial, tapi kita lupa dengan subtansi guru yang memeerdekakan pemikiran siswa.
    5. Phobia yang tinggi pada guru menyebabkan guru sebagai profesi kelas 2, ketakutan menyampaikan kebenaran di lingkungan sekolah (walaupun manejemen dan pengelolaan keuangan sekolah amburadul dan korup); bagaimana kita mau dihormati orang, kalo diri kita dan pemikiran kita masih terbelenggu oleh ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan.
    6. Kita terlalu dibuai dengan slogan “guru tanpa tanda jasa”, sehingga kita manut, apatis, statis terhadap kebijakan-kebijakan yang justru memarginalkan guru..

    wassalam

     
  41. sugiarta

    December 21, 2010 at 7:39 am

    berprestasi dulu, baru mengharapkan fasilitas……

     
  42. sujud

    June 3, 2011 at 9:44 am

    jadilah guru yang rahmatan lil alamin. berwawasan dunia.tidak sempit

     
  43. Nanda Putra Adnan

    October 26, 2011 at 12:23 pm

    btul bgt tu… guru adalah pahlawan tanpa jasa… sehingga seolah-olah gak ada jasa saja… padahal dokter itu karena ada guru… semuanya karena guru.. seharusnya guru itu yang harus diberi kelayakan hidup…????

     
  44. dina

    January 28, 2012 at 10:57 am

    guru adalah pencipta generasi2 penerus bangsa
    amiin… ;)

     
  45. aida

    September 3, 2012 at 11:27 am

    jadi guru adalah langkah awalku dlm mencetak generasi mulya…tetap semangat bpk-ibu guru Indonesia

     
  46. harista

    September 4, 2013 at 10:12 am

    apakah PPG itu harus dijalani S1
    apakah PPG itu syarat mengajar?
    bagaimana kalau kita tidk ada biaya untuk PPG?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 109 other followers

%d bloggers like this: