Remaja dan Permasalahannya (part 2)

Bagi yang belum membaca part 1 dari tulisan ini, silahkan mampir ke sini.

Kali ini saya akan memfokuskan pada peranan keluarga bagi remaja. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang primer dan bersifat fundamental. Disitulah remaja dibesarkan, memperoleh penemuan2, belajar dan berkembang. Bermodalkan pengalaman2 yang diperolehnya dalam keluarga inilah bergantung kelangsungan hidupnya.

Jika kita menelaah peranan keluarga, maka dapatlah dikatakan sebagai berikut :

a. keluarga sebagai pusat pendidikan

Disini orang tua berperan dalampembentukan kepribadian remaja karena orang tua mendidik, mengasuh dan membimbing remajanya untuk hidup di dalam masyarakat.

b. keluarga sebagai pusat agama

Dengan kesadaran beragama yang diperoleh remaja2 dan bimbingan orang tua, remaja mengenal agama maka membuat remaja untuk berbuat soleh dalam kehidupan.

c. keluarga sebagai pusat ketenangan hidup

Dalam mempertahankan hidupnya sering orang mengalami gangguan pikiran, menemui frustasi dan untuk mendapatkan kekuatannya kembali maka keluarga pangkalan yang paling vital.

Berikut ini beberapa tipe atau gaya remaja dalam mengekspresikan dirinya :

a. si preman

Remaja yang kalau berbicara seperti remaja yang “kasar” dan “terlalu terus terang” ditambah dengan mimik wajah seorang pemrotes. Memang agak sukar mengubah kebiasaannya, tetapi orang tua terus mengingatkan bahwa cara bicaranya bisa disalahartikan orang lain. Tentunya orang tua tentunya terus memotivasi remaja untuk bicara “lebih manis”.

b. si pendiam

Ada remaja yang pendiam, tidak pernah mengeluh atau protes dalam menghadapi situasi apapun. Remaja ini cenderung pasif dan diam dalam kesehariannya.

Orang tua harus peka sehingga bisa menangkap kegalauan anaknya hanya dengan tanda2 yang kecil dan hampir tidak tampak.

c. si kreatif

Cara berpikirnya sedikit berbeda, dan orang lain cenderung melihatnya sebagai remaja yang ”melanggar” kebiasaan, suka bereksperimen dan antusias pada hal yang tidak biasa. Terkadang muncul dalam gaya bahasanya yang berandai-andai.

d. si cerewet

Remaja yang sangat memperhatikan hal2 kecil, apa saja dan perhatiannya sangat cepat teralih dari apa yang dilihat, didengar atau dipikirkan dan tanpa piker panjang ia mengatakannya.

e. si pengeluh

Remaja ini selalu mengeluh, mengomel dan menyampaikan sesuatu dengan emosi yang tinggi. Hidup ini baginya serba sukar, serba penuh hambatan dan hampir semua orang tidak bisa benar2 memuaskan hatinya.

f. si plin-plan dan si jail

Ada remaja yang terlalu memperhatikan reaksi orang lain. Ia bertindak bukan karena dirinya tetapi untuk melihat reaksi menyenangkan atau membuat kesal orang lain.

Si plin-plan selalu berusaha menyenangkan orang lain. Biasanya merasa kurang percaya diri dan berusaha untuk menyenangkan orang lain adalah motivasi terbesarnya.

Sebaliknya si jail ia bisa “tega” membiarkan orang lain dalam keadaan “tidak nyaman” bahkan ia akan menertawakannya. Bagi anak ini, mengamati bagaimana orang lain bereaksi sebgai akibat tingkah lakunya adalah hal yang menarik dan menadimotif utama dari segala tindakannya.

g. si penakut

Remaja ini sukar sekali untuk dapat bergabung dengan teman2 seusianya. Berbeda dengan remaja yang pasif, remaja ini selalu berada dalam kecemasan dan ketakutan yang terpancar dari ekspresinya.

Orang tua harus menerima dirinya yang “pemalu” dan tidak memaksakan untuk “menonjolkan diri” sudah merupakan langkah yang sangat berarti baginya untuk memupuk rasa percaya dirinya.

Setelah mengetahui bagaimana tipe remaja dalam mengekspersikan dirinya, orang tua sebaiknya mempersiapkan diri untuk mengenal lebih jauh dalam membimbing anaknya saat masa remaja.

Pertama, kenali mereka lebih dekat yaitu informasi mengenai remaja dan perubahan2 yang terjadi di dalam dirinya.

Kedua, kenali perubahan fisik pada remaja dan dampaknya terhadap diri anak.

Ketiga, kenali perubahan emosi remaja dan caranya mencari perhatian orang tua serta reaksi emosinya dalam menghadapi masalah.

Keempat, menciptakan hubungan komunikasi yang hangat, membentuk kebiasaan2 yang positif, memberlakukan aturan dalam keluarga, menyikapi “kesalahan” anak, “mengambil hati” anak dan “mencuri perhatian” anak.

Kelima, kenali perubahan lingkungan misalnya peran gender serta rasa keadilan antara pria dan wanita; teman dan permasalahannya; naksir, ditaksir dan pacaran.

Keenam, masalah2 seksualitas, kelainan seksual dan pengaruh buruk yagn ada di masyarakat.

Tidak hanya remaja yang belajar menghadapi kehidupananya yang “baru” tetapi orang tua juga perlu banyak belajar menghadapi perubahan2 dan menemukan cara terbaik untuk menghadapinya.

About these ads

About nurita putranti

Nama yang diberikan ayah bunda tercinta kepada anaknya yg lahir 15 Pebruari 1984, adalah:Nurita Putranti. saya suka pake eNPe yg berasal dari inisial nama saya tuch :) tapi byk juga yang panggil saya de'ita.

Posted on February 21, 2008, in AMEMOAR, Amenulis, baca buku, belajar, edukasi, eNPe, guru and tagged . Bookmark the permalink. 8 Comments.

  1. Keluarga adalah pusat dan sumber pendidikan bagi anak-anak. Maka marilah kita jaga keluarga untuk tetap eksis menjadi pusat dan sumber pendidikan bagi anak-anak kita.

    Setudjuuuu

  2. Menurut saya remaja memang tengah mencari jati dirinya, seperti apa mereka kelak. Jikalau mereka kecewa atau tidak puas dengan role-model yang kini dia ‘idolakan’, ia akan beralih mencari role model yang lebih cocok dengannya. Inilah salah satunya kenapa sikap remaja sangat fluktuatif dan terkadang sukar ditebak.

    Namun, semua itu tentu saja wajar. Sebagai orangtua kita hanya wajib memonitor perkembangannya dan membantu untuk memberikan informasi yang lengkap terhadap segala sesuatu yang dicari sang remaja tersebut agar sang remaja tersebut tidak terjebak dalam informasi yang salah yang akan menjerumuskannya…

    Terima kasih atas masukannya. Jadi ini komen yang serius :-D

  3. wah, artikelnya bagus sekali nih.
    remaja memang menarik untuk dibahas. kondisi remaja sekarang dengan masa dulu jelas sekali jauh berbeda situasi dan tantangannya.malah menjadi remaja saat ini lebih berat.makin panjangnya rentang waktu masa remaja yang membuat remaja bisa salah pergaulan, mobilitas yang tinggi, arus informasi yang sangat deras, media yang serba permisif dan lemahnya dukungan orang dewasa. membuat hilangnya “golden moment” untuk berkomunikasi dengan orang tua dan guru ya, sehingga rumah dan lingkungan utamanya sekarang berpindah ke teman sebayanya. saya beberapa waktu lalu sempat mendampingi anak remaja yang akhirnya meninggal dengan AIDS dengan latarbelakang penggunaan narkoba di usia muda sekali.orang tuanya tidak pernah tahu hal ini.
    oya untuk berbagi, saya juga ada tulisan di link ini: http://www.balebengong.net/2007/08/12/remaja-saat-ini-tragis-atau-strategis/#more-117, mudah-mudahan bisa berbagi.

    salam kenal buat ibu guru. saya salut dengan guru-guru yang mau melek info dan teknologi dan bisa berbagi buat semua.

    sukses selalu n keep on blogging.

    Terima kasih sudah berbagi disini. Pengalaman bapak bermanfaat sekali :)
    salam kenal juga. saya segera mengunjungi blog bpk :D

  4. Maaf Saya Punya Masalah diSekolah:
    Teman Baru Saya dia Sekelas sama Saya,dia anaknya sok Jagoan, Ngebecandain Orang Mau Tapi diBecandain Marah,Dia Pernah dikelas nge Lempar2 batu Kecil keSaya Trus….kena Kepala saya dan pas itu saya Bilang begini Sama dia “Woy Bego Gak Punya Otak Lu….ya”
    Nah pas itu dia Langsung Maranin saya dia bilang ke Saya “Lu Mau Ngajakin gue Ribut…Lu,Sini Ayo Ribut Sama Gua”
    Kalo saya Waktu Itu Diem…aja,Karna saya Masih anak Baru disana sedangkan dia Sudah Dari SMP disana,kalo Saya SMK 1 Jurusan Multimedia.
    Gak Mungkinkan saya Anak Baru Masuk Sekolah sudah Kena Masalah Perkelahian.
    Menurut Anda Gimana? :P :D ;)

  5. Sewaktu saya berhadapan dengan banyak orang, saya ada kalanya membuka dengan sebuah pertanyaan, untuk mencapai konsensus awal, yaitu:”Semua orang selama hidup pasti punya masalah, ya? Betul, kan?”. Umumnya, atau dapat dikatakan selalu jawaban mereka adalah:”Ya!!!”. Lalu saya lanjutkan dengan pertanyaan kedua: “Bolehkah saya tahu, menurut Bapak-bapak dan Ibu-ibu, definisi masalah itu apa?”. Umumnya tidak ada yang angkat tangan. Tujuan saya, mengajukan pertanyaan itu adalah: Kalau sesorang belum tahu, apa yang dapat disebut masalah, bagaimana mungkin dia bisa mengatakan kalau dia punya masalah? Ya, kan?
    Wow, saya baru ingat, ini kan hanya kolom komentar.Ha ha ha … bikin bersambung aja, deh. Lain kali saya lanjutin, karena kalau diterusin, bicara aja bisa 2 jam lebih, kalau ditulis, ya panjang. Selamat mendidik generasi penerus kita, Bu Ita!
    Salam sukses selalu!

  6. Dalam sebuah pertemuan, dimana hadir juga para ibu-ibu, saya diminta untuk mengisi dengan satu dua kata, maka saya tanyakan dulu, apakah diantara para ibu ibu yang hadir, sudah ada yang punya anak remaja satu atau dua? Jawabannya: Ada dan ya. Maka saya tanyakan: ” Ibu ibu yang saya hormati, bila anak ibu terlihat membuat pekerjaan rumah, atau belajar sambil memutar lagu lagu dari tape recorder, apa langkah yang biasanya Ibu ibu lakukan?” Jawaban yang saya peroleh adalah seragam: “Saya akan suruh dia mematikan tape recorder itu dan melanjutkan proses belajarnya!” Maka saya katakan kepada para ibu ibu itu, bahwa saya tidak sependapat, bahkan bahwa tindakan menyuruh anaknya mematikan tape recorder itu adalah: “Salah besar!” Anak tersebut pasti nurut, tape recorder dimatikan, tapi sejak tape itu dimatikan, maka proses belajarnya-pun ikut mati, alias akan berlangsung secara amburadul. Yang ada hanyalah pergumulan dalam hatinya antara tekanan perintah dan keinginan hatinya, sehingga secara psychologis dia sudah tidak siap lagi untuk menerima bahan baru. Sedangkan proses belajar membutuhkan suasana keterbukaan hati untuk menerima semua ilmu baru dengan hati yang senang. Kita tentu sependapat, bahwa untuk belajar butuh konsentrasi. Ilmu memory mengatakan, bahwa untuk orang dapat konsentrasi untuk belajar dibutuhkan tingkat stress 10%. Pertanyaannya adalah: “Yang dimaksud dengan tingkat stress 10% itu yang bagaimana? Apa ada cara untuk mengukurnya?” Menurut para pakar, bila kita membaca koran sambil mendengarkan lagu pada intensitas volume tertentu, dimana hasil akhirnya adalah kita mengerti yang kita baca, dan kita juga pada saat bersamaan dapat menikmati lagu itu, nah itulah tingkat stress 10%.
    Puteri teman saya, sewaktu SMA selalu rangking 1, kemudian melanjutkan studi di LN, sampai tingkat PhD selalu lulus Cum Laude, Bu Ita tahu? Bagaimana caranya dia belajar? Saya pernah lihat sendiri di rumah teman saya, dan dibenarkan kedua orangtuanya, bahwa anaknya itu kalau belajar selalu diiringi tape recorder yang memutar lagu kesenangan anaknya itu. Tingkat stress 10%, suasana hati santai dan senang, niat belajar ada, maka apa yang dipelajari akan mudah diterima oleh seluruh mekanisme tubuh anak tersebut.
    Jadi menurut saya, memerintahkan anak untuk mematikan tape recorder akan berakibat kontra produktif terhadap hasil yang akan dicapainya nanti.
    Menurut Bu Ita, bagaimana? Sekian dulu, ya? Sampai lain kali! Salam sukses selalu!

  7. Hari ini perkenankan saya secara singkat menyampaikan opini saya tentang “Problem solving”, dengan terlebih dulu mengutip definisi masalah Merlyn Cundiff dalam bukunya: “KINESICS: THE POWER OF SILENT COMMAND”, sbb:

    “ Reduced to the lowest common denominator and stripped to the essence of simplicity, a problem is nothing more than the difference between what a person HAS and what he WANTS”

    Definisi paling sederhana tentang “masalah” adalah perbedaan antara apa yang kita inginkan dan apa yang kita miliki. Apa yang kita inginkan (selanjutnya saya sebut A), termasuk kategori “fantasi”, bisa apa saja, 1001 macam. Apa yang kita miliki (selanjutnya saya sebut B), termasuk kategori “Kenyataan”, suatu realita, hanya ada satu realita, tidak bisa di-ubah2. Menyampaikan apa yang kita inginkan, adalah jauh lebih mudah daripada mengakui kenyataan diri kita, karena tidak ada orang bodoh yang mau mengaku dirinya bodoh.

    Berat ringannya sebuah masalah ditentukan oleh jarak yang memisahkan antara A dan B, dan dinyatakan dalam unit satuan waktu, karena “time is money”.

    Wajar atau tidak wajarnya sebuah masalah ditentukan berdasarkan penilaian apakah keinginan kita sesuai atau tidak sesuai dengan situasi dan kondisi riil kita pada saat ini.

    Kita benar2 menghadapi suatu masalah tertentu atau tidak, ditentukan oleh penilaian tentang apakah apa yang kita inginkan itu benar2 keinginan kita, sesuai sikon kita, atau sebenarnya keinginan orang lain yang kita adopsi. Hati2! Jangan sampai kita sengsara, karena beban masalah orang lain, yang bukan tanggung jawab kita.

    Kita sedang “ditunggangi” bila suatu keinginan baru dijejalkan ke dalam pikiran kita dengan argumentasi logis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    Sekarang mari kita coba terapkan untuk masalah ZXV tertanggal 05/11/2009:
    Kenyataan:
    1. ZXV menyebut si jagoan sebagai Teman Baru nya.
    2. ZXV berpendapat si jagoan dalam bercanda lebih senang dalam posisi subyek kebanding obyek.
    3. ZXV dilempar batu kecil oleh si jagoan.
    4. ZXV menyebut temannya itu Bego & ndak punya otak
    5. Si jagoan menghampiri ZXV dan menawarkan untuk ribut bersama.
    6. ZXV menolak tawaran ribut, karena merasa diri masih anak baru di sekolah tersebut.
    7. ZXV menilai kejadian ini sebagai masalah baginya.
    8. ZXV melontarkan pertanyaan: Menurut Anda gimana? Dan diakhiri dengan emoticon tertawa.(?)
    Kalau ZXV merasa sedang dalam masalah, maka kita butuh tahu sebetulnya yang menjadi keinginan mendasar ZXV itu apa? Berteman dengan si jagoan?
    Atau ada keinginan lain yang belum diungkapkan? Masalah ZXV adalah kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan ZXV. Yang mana? Barulah kita dapat masuk dalam tahap saran solusi. Sekian dulu untuk kali ini. Menurut Bu Ita bagaimana?
    Salam sukses selalu!

  8. Remaja memang masa penuh dengan permasalahan, yang paling dominan yaitu permasalahan krisis soial dan psikis. Remaja sekarang cenderung terjerumus kedalam dunia moderen yang negatif untuk disebut “Gaul” atau “Funky”. dan perubahan tingkah laku yang negatif sangat memprihatinkan bagi masyarakat,guru serta Orang tua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 156 other followers

%d bloggers like this: